Posted by : Septian Cahyo Putro Jumat, 18 Mei 2012


Analisis Karakter “Hidjo” dalam Novel Student Hidjo Karya Mas Marco Kartodikromo dengan Pendekatan Objektif
Oleh: Septian Cahyo Putro

http://2.bp.blogspot.com/-HB0LN2cyPvw/T2hg6Li-xxI/AAAAAAAAAbk/8lkuIxDFbVQ/s200/Student_hijo.jpgStudent Hijo karya Marco Kartodikromo, terbit pertama kali tahun 1918 melalui Harian Sinar Hindia, dan muncul sebagai buku tahun 1919. Merupakan salah satu perintis lahirnya sastra perlawanan, sebuah fenomena dalam sastra Indonesia sebelum perang. Buku ini diterbitkan kembali dengan dua versi pada tahun 2000, oleh Aksara Indonesia dan Bentang, keduanya penerbit dari Yogya. (wikipedia)

Menurut Jakob Sumardjo (2004: 245), novel Student Hidjo dikarang oleh Mas Marco Kartodikromo ketika ia dipenjarakanoleh pemerintah kolonial Belanda tahun 1918, seperti yang tertulis dalam pengantar penulis dalam novel tesebut. Berikut adalah kutipannya.

“Ini cerita pernah dimuat dalam surat kabar harian pangkuan kami: Sinar Hindia, di dalam tahun 1918.
Sesungguhnya ini karangan buah pena kami menjalani hukuman perkara persdelict di Civiel en Militair Gevangenhuis, di Weltervreden lamanya satu tahun. Meskipun di dalam penjara kami tidak bisa tulis-menulis di dalam surat kabar, tetapi kami bisa mengarang buku-buku seperti Sjair Rempah-Rempah, Student Hidjo, Matahariah, dan lain-lain.”

Oleh Bakrie Siregar, novel ini dipandang sebagai perintis tradisi sasra Indonesia karena telah menyuarakan semangat kebangsaan dan perlawanan terhadap kolonialisme.[1] Novel ini mencoba berkisah tentang awal mula kelahiran para intelektual pribumi, yang lahir dari kalangan borjuis kecil, dan secara berani mengontraskan kehidupan di Belanda dan Hindia Belanda.

Mas Marco secara lugas juga menunjukkan keberpihakannya kepada kaum bumiputra. Ia menggunakan tokoh Controleur Walter sebagai tokoh penganut politik etis yang mengkritik ketidakadilan kolonial terhadap rakyat Jawa atau Hindia. Novel inipun lahir sebagai sikap politik dari Mas Marco sendiri yang merupakan aktivis revolusioner yang berpindah dari penjara ke penjara.

Hidjo adalah seorang pemuda bangsawan Solo lulusan HBS yang akan belajar ke Belanda. Menjelang keberangkatannya ia ditunangkan dengan Biru, putri pamannya sendiri. Adapun Wardoyo adalah putra Regent Jarak dan memiliki adik bernama Wungu; Willem Walter anak controlleur (pengawas) Belanda di Jarak; sedangkan Betje adalah pacar Hidjo di Nederland.

Kisah diawali dengan rencana orangtua Hidjo menyekolahkan ke Belanda. Ayah Hidjo, Raden Potronojo, berharap dengan Hidjo ke Belanda, dia bisa mengangkat derajat keluarganya. Meskipun sudah menjadi saudagar yang berhasil dan bisa menyamai gaya hidup kaum priyayi murni dari garis keturunan, tidak lantas kesetaraan status sosial diperoleh, khususnya di mata orang-orang yang dekat dengan gouvernement, pemerintah kolonial. Berbeda dengan sang ayah, sang ibu Raden Nganten Potronojo khawatir melepas anaknya ke negeri yang dinilai sarat "pergaulan" bebas.

Pendidikan di Belanda ternyata membuka mata dan pikiran yang sangat besar bagi Hidjo. Hidjo sang kutu buku yang terkenal "dingin" dan mendapat julukan "pendito" sampai onzijdig, banci, akhirnya pun terlibat hubungan seksual di luar nikah dengan Betje, putri directeur salah satu maatschapij yang rumahnya ditumpangi Hidjo selama studi di Belanda. Pertentangan batin karena melakukan aib dan panggilan pulang ke Jawa akhirnya menguatkan Hidjo untuk memutuskan tali cinta pada Betje.

Persoalan menjadi sedikit berliku ketika perjodohan dengan Raden Adjeng Biroe yang masih sanak keluarga, meskipun sesungguhnya Hidjo terpikat dengan Raden Adjeng Woengoe, putri Regent Jarak yang sangat cantik. Di akhir cerita, ketegangan mendapat penyelesaian. Kebebasan memilih dan bercinta diangkat ketika Hidjo tidak langsung setuju pada pilihan orangtuanya akan tetapi mencari idamannya.

Rumus perjodohan berubah. Hidjo dijodohkan dan menikah dengan Woengoe, sementara Biroe dengan Raden Mas Wardojo kakak laki-laki Woengoe. Semua, baik yang menjodohkan dan yang dijodohkan, menerima dan bahagia.

Watak tokoh Hidjo seakan menjadi kelemahan dalam novel ini. Tokoh Hidjo yang pada awalnya digambarkan lelaki setia yang bertanggung jawab ternyata sebaliknya. Ia juga memiliki watak begitu patuh pada ibunya, seperti pada kutipan berikut (percakapan Hidjo dengan Ibunya):
“Jangan nakal ya, Jo,” kata ibunya kepada Hidjo.
Hidjo hendak tertawa mendengarkan perkataan ibunya itu, tetapi ditahannya sambil berkata:
“Tidak!”
“Kalau kamu di negeri Belanda sampai nakal seperti anak-anak Jawa lainnya yang ada di negeri Belanda, kamu saya tinggal mati,” kata Raden Nganten.
“Tidak, Bu!”, menjawab anaknya... (Student Hidjo, hlm. 9-10)

Dari kutipan di atas nampak jelaslah pergeseran sifat Hidjo yang awalnya begitu penurut pada Ibunya, namun ketika telah bersekolah di Belanda ia melanggar janjinya itu. Ia berpacaran dengan Betje dan bahkan menghamilinya. Betje lalu memutuskan mengugurkan kandungan dengan sebab Hidjo berniat memutuskan pelajaran dan hendak kembali ke pulau Jawa. Akhirnya dengan sangat tidak bertanggung jawab ia kembali ke Jawa meninggalkan Betje.

Watak yang ditunjukkan Hidjo ini seolah sindiran terhadap kaum muda terpelajar. Tujuan awal mereka belajar namun ternyata setelah sampai di kota tempat mereka hendak menimba ilmu, tujuan tersebut seakan terlupakan. Inilah fenomena yang sering terjadi pada sebagian kaum terpelajar Indonesia hingga saat ini. Ternyata kritikan tersebut masih berlaku hingga zaman sekarang.

Berhubung Hidjo adalah orang Jawa, secara tidak langsung Mas Marco juga menjelekkan pria Jawa dengan sindiran tersebut. Aneh memang, karena Mas Marco sendiri juga seorang yang menjunjung tinggi budaya Jawa. Hal ini terbukti dari pakain khas yang dikenakannya, yaitu jas dengan kain batik dan selop ala Jawa.

Hal lain yang kiranya perlu mendapat perhatian adalah perasaan cinta Hidjo kepada Biru yang begitu cepat hilangnya dan digantikan oleh Wungu. Padahal cinta Hidjo begitu besarnya pada Biru, seperti dalam kutipan berikut:
“Kalau saya pergi ke negeri Belanda, tentu susah sekali yang saya tinggalkan, sebab kamu rupa-rupanya cinta sekali kepada saya. Begitu juga saya, meskipun saya ini seorang yang tidak suka bicara dan tidak suka main-main sama orang perempuan, tetapi kalau satu hari saya tidak tahu rupamu...” (Student Hidjo, hlm. 20)

Jakob Sumardjo mengatakan kelemahannya tampak pada perubahan karakter yang secara empiris sulit dimengerti. Betapa mudah Hidjo melupakan Biru dan menikahi Wungu, dan alangkah gampang Wungu mencintai Hidjo tanpa perkenalan yang mendalam.[2]

Karena perubahan wataknya yang begitu drastis dan tiba-tiba maka tokoh ini saya sebut tokoh ‘bulat sempurna’. Mas Marco seolah menggambarkan watak Hidjo yang amat buruk, yaitu pembohong, suka main perempuan, penghianat, dan tidak bertanggung jawab dengan blangkon yang menutup kepalanya.

Novel ini bagai pedang bermata dua, di satu sisi merupakan kecaman pengarang terhadap tingkah laku orang Belanda di Indonesia yang ternyata banyak berubah sikap setelah berada di Indonesia. Dan sisi lain mencemarkan kehormatan tanah kelahiran dan budayanya sendiri, Jawa.

 




[1] Yudiono K.S.,Pengantar Sejarah Sastra Indonesia, (Jakarta: Grasindo, 2007) hlm. 110
[2] Yudiono K.S.,Pengantar Sejarah Sastra Indonesia, (Jakarta: Grasindo, 2007) hlm. 110

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Halaman Tian - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -