Indonesia

Sample text

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Advertising

Advertising

Translate

Social Icons

Followers

About Me

Foto Saya
Septian Cahyo Putro
Depok, Jawa Barat, Indonesia
Pendidik di Bizsmart School Depok
Lihat profil lengkapku

Featured Posts

Kelahiran Nabi Muhammad Saw dan Perisitiwa di Sekitarnya


Nabi Muhammad Saw lahir di kota Mekkah, kampung Bani Hasyim pada 12 Rabiul Awal atau bertepatan dengan 20 April 571 Masehi, tahun Gajah. Ketika kelahiran beliau, seperti diungkapkan oleh bidan yang membantu persalinannya, Syifa binti Amr, Aminah sama sekali tidak mengeluarkan darah. Syifa binti Amr berujar, “dari sekian banyak ibu yang aku bantu persalinannya, hanya Aminah yang melahirkan tanpa mengeluarkan darah, dari sekian banyak bayi yang aku bantu melahirkannya, hanya bayi Muhammad yang lahir dalam kondisi tali pusarnya telah terpotong dan telah dikhitan.
Diungkapkan pula oleh ibunda Nabi Muhammad Saw, Aminah, bahwa ketika mengandung Nabi Muhammad Saw ia tidak merasakan mual, pusing, “ngidam”, atau keluhan-keluhan lain yang dirasakan ibu hamil lainnya. Ketika mengandung Nabi Muhammad Saw, Aminah mengatakan bahwa perutnya bercahaya di malam hari juga sering kali seperti ada orang yang membisikinya, “Aminah bayi yang engkau kandung bukanlah orang biasa, berilah ia nama Muhammad ketika lahir nanti.” Saat kelahiran Nabi Muhammad Saw, Aminah mengatakan, “aku melihat cahaya yang terang sekali bersamaan dengan keluarnya bayiku, bahkan saking terangnya aku bisa melihat singgasana kerajaan Romawi.”
Kelahiran Nabi Muhammad Saw, adalah rahmat bagi seluruh alam. Ketika kelahirannya, Abu Lahab sebagai saudara seayah dari Abdullah bin Abdul Muthalib—ayah Nabi Muhammad Saw, mengirimkan seorang budak bernama Tsuwaibah Al Islamiyah untuk menyusui bayi Muhammad. Setelah disusui beberapa pekan bersama Tsuwaibah, Muhammad kecil diberikan kepada pengasuh baru bernama Halimah dari Tha’if.
Ada cerita menarik terkait dengan Halimah ini. Ia adalah seorang yang usianya tidak muda lagi, pekerjaannya memang menyusui bayi orang-orang. Namun, air susu Halimah yang sebelah tidak lagi keluar, sedangkan yang sebelah lagi hanya keluar sedikit-sedikit. Setiap kali ada bayi yang disusuinya, bayi itu menangis. Setiap kali pintu rumah diketuk dan Halimah bertanya, “apakah ada bayi yang bisa aku susui?” Maka melihat kondisi Halimah, tuan rumah akan langsung menolaknya. Meski begitu, Halimah tidak menyerah, ia berjalan jauh dari Tha’if ke Mekkah untuk mencari bayi yang mau disusuinya. Jarak Tha’if ke Mekkah kurang lebih 150 km, lama perjalanan yang ditempuh kurang lebih seminggu dengan unta.
Di Mekkah juga hampir-hampir Halimah putus asa karena tidak juga mendapat bayi yang dapat disusuinya. Sampai ia akhirnya mengetuk pintu sebuah rumah, yaitu Aminah. Oleh Aminah ia dipersilakan masuk dan mereka pun berbincang. Kata Aminah, “aku hanyalah janda, yang warisannya tidak banyak, jadi aku tidak bisa menjanjikan bisa membayarmu secara rutin.” Dalam hati Halimah agak ragu menerima bayi ini, karena ia dan bayi ini tentu butuh makan. Akhirnya Halimah kembali ke kemahnya untuk bertanya pada suaminya. Saran dari suaminya, “kau ambil saja bayi itu, mungkin bisa menjadi berkah bagi kita.” Halimah pun mengambil bayi itu untuk dibawa tinggal bersamanya di Tha’if.
Selama merawat Muhammad kecil, banyak sekali keberkahan yang diperoleh Halimah dan keluarganya. Muhammadlah, bayi yang tidak menangis saat disusui oleh Halimah, bahkan ia tertidur ketika disusui. Air susu Halimah yang tadinya macet, keluar dengan lancar. Kebun-kebun Halimah dan suaminya menjadi subur. Ternak-ternaknya juga beranak pinak dan gemuk-gemuk. Keberkahan Muhammad kecil benar-benar dirasakan oleh Halimah dan keluarganya. Akhirnya setelah dua tahun bersama Halimah, Muhammad kecil harus dikembalikan kepada Aminah. Namun, Halimah meminta kepada Aminah agar bisa merawatnya beberapa tahun lagi. Akhirnya Aminah menyetujuinya dan Muhammad kecil berada dalam pengasuhan Halimah sampai usia lima tahun.
Banyak keajaiban di seputar kelahiran Nabi Muhammad Saw. Ketika itu alam pun seolah turut merasakan kebahagiaan atas kelahiran beliau. Kebun-kebun kurma menghasilkan buah lebih banyak dari biasanya dan binatang ternak menjadi lebih banyak susu dan anaknya. Terlebih lagi, pelajaran penting yang bisa kita ambil dari Halimah. Sikapnya yang tak kenal menyerah, menempuh jarak ratusan kilometer untuk mencari bayi yang mau disusuinya. Padahal Allah menguji Halimah dengan keterbatasan, namun itu tidak lantas membuatnya menyerah. Sudah sepatutnya kita malu pada Halimah.

Demikian tulisan ini saya tulis sebagai catatan atas kajian Sirah Nabawiyah, yang dibawakan oleh Ustaz Salman pada Minggu, 7 Februari, 2015 di Masjid Al-Istiqamah, Pondok Labu, Jakarta Selatan. 

“ALLAH PANTESIN BUAT KITA”

“ALLAH PANTESIN BUAT KITA”


“Kalo kita dateng ke Allah, Allah pantesin buat kita”
“Jabatan kita udek, dunia kita udek, Allah ga kita udek”
(Ust. Yusuf Manshur)

Kalimat nasihat sederhana ini selalu terngiang di telinga saya. Begitu juga dengan cerita yang mengikutinya. Ada anak muda, dapat panggilan kerja. Malamnya dia dapat saran dari neneknya untuk tahajud. Paginya karena tidak biasa tahajud dia ketiduran di bus, harusnya turun di Wisma Nusantara bablas sampai Arion.
Begitu bangun kaget dia lihat jam sudah jam 11. Akhirnya dia balik lagi naik bus yang sama, di tengah perjalanan bertemu bapak-bapak, mereka mengobrol dan ternyata tujuannya sama, mau ke Wisma Nusantara.

Begitu sampai di sana, anak muda ini kaget, ratusan orang mengantri untuk wawancara pekerjaan yang sama. Dan lebih kaget lagi si Bapak tiba-tiba bilang, “Suratnya mana surat?” Si anak muda bingung diberikanlah surat itu sama si Bapak. Lalu si Bapak bilang, “Ini saya yang tanda tangan nih! Yaudah ayo langsung ke kantor saya!”.
Si anak muda dengan kaget dan panik bilang, “Tapi kan saya telat pak?”, “Ya sama bosnya kan juga telat”, jawab si Bapak.

MasyaAllah, inilah yang disebut kuasa Allah. Kalau kita mengutamakan Allah dalam tiap urusan, maka Allah akan mudahkan urusan kita. Percaya deh!

Saya sering dapat tugas kuliah yang sama sekali saya tidak mengerti, sekalinya ada referensi bahasa Inggris (saya paling ribet baca bahasa Inggris), tapi ketika saya mohon sama Allah petunjuk, Alhamdulillah, selalu saja saya dapat buku yang di dalamnya udah mencakup semua jawaban ditambah lagi bukunya berbahasa Indonesia. Allahuakbar! Saat teman-teman saya masih pusing dengan tugasnya, saya sudah selesai. Hebatnya lagi, ini kejadian bukan Cuma sekali.

Kadang kita pusing-pusing cari referensi ke sana ke mari, buka buku ini itu, googling jurnal sampai kuota tiris, begadang-begadang tak keruan. Tapi kita lupa sama yang Maha Memiliki Ilmu, kita lupa kalau Allah sebenarnya yang punya itu ilmu. Dosen-dosen, buku-buku, peneliti-peneliti, professor-profesor, itu cuma perantara saja buat menyampaikan ilmu itu. Jadi kalau mau paham suatu ilmu, ya dekatkan saja sama yang Maha Memiliki Ilmu, kalau pendekatan kita bagus, insyaAllah dikasih ilmu yang orang lain belum tentu dapat. InsyaAllah!

Begitu juga dalam hal mencari rezeki. Kita manusia sering kalap kalau bekerja, berangkat pagi, pulang malam, sampai rumah tinggal capeknya. Lalu? Allah hanya dapat waktu sisa dari kita. Atau ada mahasiswa yang mati-matian cari beasiswa, tapi kita lupa kalau Allah yang punya rezeki itu. Allah kita tinggalkan, duniawi kita udek-udek. Coba deh dibalik, Allah dulu yang kita dekatkan, baru deh duniawi kita usahakan. InsyaAllah, hati lebih tenang.

Satu lagi, ada juga orang yang mati-matian mencari jodoh. Kenalan sana, kenalan sini, usaha dengan berbagai trik dan intrik, hehe. Tapi dia lupa, kalau Allah yang Maha Menciptakan. Coba deh, dekatkan diri pada penciptanya, kalau pendekatan kita baik, insyaAllah dikasih, mau sama ciptaan dia yang mana. Tapi juga jangan lupa, Allah selalu kasih yang terbaik buat kita, meski kadang bukan kemauan kita. Kalau sudah begini, ya balik lagi sama Allah. Supaya diberi hati yang ikhlas dan lapang.

Intinya, seperti kata Ust. Yusuf Manshur, “kalo kita dateng ke Allah, Allah pantesin buat kita!” Ini ciyus lho, beneran! 

Tiada daya dan upaya, kecuali atas kehendak Allah Swt.

Septian Cahyo Putro, 29 Desember 2015
*Di sela tugas UAS dan berbagai kegundahan yang belum mereda.

Natal: Apakah benar hari kelahiran Yesus?


Laman pertama dan kedua tergolong dibuat oleh umat Nasrani. Kedua laman tersebut menyatakan tanggal 25 Desember bukanlah hari kelahiran Yesus. Lalu mengapa tanggal tersebut diperingati sebagai hari besar umat Kristiani?
Pada tanggal tersebut bertepatan dengan hari penyembahan dewa matahari, karena tidak ingin umat Kristiani ikut-ikutan merayakan hari dewa matahari, Bapa membuat hari tandingan yang dikhususkan untuk umat Kristiani agar mereka berpaling dari kebiasaan lama. Lengkapnya silakan baca tautan di atas.
Laman terakhir adalah laman yang tergolong buatan muslim. Laman ini bahkan lebih rinci mengungkapkan kenapa tanggal 25 dijadikan perayaan hari besar umat Kristiani. Disertakan pula bukti-bukti dari Lukas 2:11 yang menyatakan 'tidak mungkin' Yesus lahir tanggal 25 Desember.
Pada laman tersebut dijelaskan pula sebab-sebab Natal masuk gereja. Lengkapnya. Silakan baca tautan di atas.
Yang ingin saya kemukakan adalah pandangan bahwa Natal bukan hari kelahiran Yesus datang bukan hanya dari umat Islam tapi juga umat Kristiani. Jika ada umat Kristiani yang masih menganggap Natal sebagai kelahiran Yesus itu berarti informasi ini belum sampai kepadanya atau memang sekadar ikut-ikutan tradisi.Jadi, jika ada orang Islam mengucapkan, "Pantaskah kita mengucapkan, Selamat Hari Lahir Tuhan?" kepada rekannya yang Kristiani, berarti terjadi kerancuan di sini. Pertama, umat Islamnya tidak tepat mengungkapkan alasan tidak bolehnya mengucapkan itu. Kedua, umat Islam tidak paham kalau Natal sebenarnya bukan peringatan hari lahir.
Tindakan yang lebih baik adalah tidak perlu mengucapkan itu. Kenapa? Pertama, karena dalam agama Kristiani, Natal itu bukanlah ajaran agama, kalaupun ajaran agama bukan berarti kita boleh mengucapkan. Kedua, karena jika kita mengucapkan itu berarti kita tidak mengerti dan membaca sejarah, sehingga tertular 'kebodohan' dan mendukung pembodohan sejarah. Menurut saya pribadi, itulah dua alasan yang tepat bagi muslim tidak mengucapkan selamat Natal. Agak jauh dari urusan aqidah memang, tapi lebih ke persoalan nalar.

Andai Semua Guru seperti Mario Teguh

Awalnya saya adalah orang yang tidak menyukai motivator. Saya menganggap mereka hanya menjual kata-kata belaka. Menurut hemat saya, belajar dari seorang yang telah sukses dan telah menjalani kerasnya hidup tentu lebih bermakna ketimbang mendengarkan orasi seorang motivator.
Belakangan saya menyadari bahwa menjadi seorang motivator bukanlah hal yang mudah. Dan ternyata menjadi motivator adalah pekerjaan yang mulia. Motivator mampu mengubah sudut pandang seseorang dalam melihat masalah. Motivator seolah mampu memberikan solusi hampir tiap masalah yang dialami orang lain.
Banyak sekali motivator terkenal di Indonesia, salah satunya Mario Teguh. Pada judul tulisan ini saya menulis, “Andai semua guru seperti Mario Teguh.” Bukan berarti saya berharap semua guru menjadi tua dan botak mirip dirinya, hehe. Namun saya menjadikan sosoknya sebagai metafora atas peran motivator seorang guru.
Saya pernah mengikuti seminar mengenai kurikulum 2013 (K13) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Salah satu narasumber menyebutkan bahwa dalam K13 peran utama seorang guru adalah sebagai motivator. Melalui peran tersebut diharapkan guru dapat menanamkan nilai-nilai positif dalam diri anak didiknya. Sehingga tercapai tujuan dari K13, untuk menciptakan insan berkarakter positif.
Seperti kita ketahui dewasa ini, krisis moral melanda sebagian pelajar Indonesia. Tak terhitung banyaknya kasus dan kejadian yang membuat kita miris dan mengelus dada. Saya tak ingin menyebutkannya karena sebagai pendidik saya malu untuk ikut bertanggung jawab atas hal tersebut.
Tugas utama seorang guru adalah mendidik, bukan mengajar. Coba saja perhatikan, di Indonesia tidak ada Kementerian Pengajaran yang ada adalah Kementerian Pendidikan. Bahkan hampir tidak ada satu pun instansi yang menggunakan kata “pengajaran” sebagai namanya. Lalu apa bedanya mendidik dan mengajar?
Sederhananya mendidik adalah memanusiakan manusia, sedangkan mengajar adalah memindahkan ilmu dari guru ke murid. Mendidik bermakna jauh lebih luas dibanding mengajar. Mendidik lebih mengutamakan pembentukan karakter anak didik bukan hanya sekedar memindahkan ilmu. Dan itulah yang seharusnya dilakukan seorang guru masa kini.
Untuk mendidik seorang guru perlu memiliki kemampuan memotivasi. Ia harus belajar dari motivator/trainer. Kemampuan ini sangat penting sehingga semua guru di Indonesia harus memilikinya. Bayangkan jika semua guru memiliki kemampuan seperti Mario Teguh atau setidaknya mendekati kemampuannya, pasti tidak akan ada anak sekolah yang terkena kasus narkoba, tawuran, atau seks. Andai saja semua guru memiliki kemampuan itu, tidak akan ada lagi pelajaran yang membosankan di kelas sehingga anak didik memiliki kesadaran akan kewajiban belajarnya.
Ya memang berandai-andai itu mudah dan menyenangkan. Namun, setidaknya gagasan itu akan timbul dari kreatifitas harapan. Tinggal bagaimana kita sebagai pendidik mau mewujudkannya. Seperti kata orang kebanyakan, “dimulai dari diri sendiri.”

Semoga semakin banyak pendidik di Indonesia yang memiliki kemampuan seperti Mario Teguh atau motivator lainnya. Semoga semakin banyak guru yang mau belajar memotivasi dan semakin sedikit guru yang hanya hobi mengajar.

Djoko Kentjono: Master of Arts yang Rendah Hati.

Dari namanya saja kita sudah akan tahu kalau dia tentu lahir kala ejaan lama masih digunakan. Ya, Anda bisa menebak berapa usianya sekarang. Beberapa hari yang lalu saya bertemu beliau dan menanyakan usianya. Ternyata sudah menginjak 79 tahun. Bahkan 10 tahun lebih tua dari republik ini.
Di usianya yang sudah 79 tahun, beliau tetap terlihat segar. Bolak balik naik turun tangga fakultas adalah hal yang biasa. Bahkan tak jarang beliau berjalan kaki dari rumahnya di komplek dosen UI sampai ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang jaraknya kurang lebih 2 km.
Beliau sampai saat ini masih aktif mengajar di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mengajar tiga kelas, mata kuliah Morfologi. Bahkan beliau juga menjadi dosen pembimbing bagi tiga mahasiswa tingkat akhir. Luar biasa bukan? Ketika saya tanya padanya mengapa masih terus mengajar, ternyata jawabnya sederhana saja. “Supaya tidak banyak yang lupa.” Ah, betapa cintanya beliau akan ilmu linguistik, sampai enggan melepaskannya dari pikirannya—ingat usia beliau 79 tahun.
Saya sempat terkejut ketika beliau bercerita tentang hobinya bermain tenis. Sampai usia 75, beliau tetap aktif bermain tenis—ini luar biasa. Lalu beliau juga berkata, “kalau sekarang sudah capek bermain tenis, tak seperti dulu.” Saat ini beliau tinggal sendiri di rumahnya, istrinya sudah lebih dulu dipanggil Sang Pencipta. Sering kali anak-anaknya yang telah berumah tangga datang untuk menemaninya. Hati saya tersentuh, di usia yang begitu senja beliau sangat mandiri. Mengurus semuanya sendiri, mulai dari hal-hal rumah tangga sampai urusan perkuliahan.
Pak Djoko Kentjono pernah berkuliah di Texas—saya lupa nama universitasnya. Beliau berhasil meraih beasiswa penuh untuk menyelesaikan studi magisternya. Sepulangnya dari Amerika beliau mengajar di Universitas Indonesia sampai usianya 55 tahun. Kalau Anda mengenal Harimurti Kridalaksana atau Achmad H.P., mereka adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswanya yang saat ini telah menjadi Profesor Linguistik.
Meski begitu beliau sangat rendah hati. Tak jarang beliau menundukkan badannya meski kepada orang yang lebih muda. Beliau selalu menanggapi dengan ramah setiap mahasiswa yang hendak berbincang dengannya. Kemeja putih lengan pendek dan celana pentalon krem adalah pakaian khasnya. Saya sendiri belum pernah melihatnya mengenakan warna kemeja selain warna putih. Benar-benar pribadi yang sederhana.
Pria kelahiran Sragen ini saat ini telah memiliki dua orang cucu dari kedua anaknya. Beliau sempat bercerita kepada saya kalau dirinya tak bisa menulis panjang, hanya sampai beberapa halaman saja. Katanya,”Ya, kalau masalahnya sederhana kenapa harus ditulis panjang-panjang?” Kemudian ia menambahi seraya tertawa,”Makanya saya heran sekali melihat tesis saya, kok bisa ya saya menulis sepanjang itu?” Saya ikut tertawa.
Dulu ketika menulis skripsi entah bagaimana caranya saya harus bisa lebih dari target yang ditetapkan fakultas. Sehingga jadilah masalah sederhana yang harusnya bisa ditulis hanya 20 halaman, mekar hingga 70 halaman. Seandainya saja skripsi tak perlu berpuluh-puluh halaman. Haha.

Pak Joko, begitu orang-orang menyebutnya. Awalnya saya mengira beliau keturunan Cina, karena matanya sipit dan kulitnya putih. Ternyata beliau orang Jawa asli. Pak Joko seharusnya dijadikan teladan oleh semua mahasiswa dan dosen. Beliau adalah inspirasi saya. Semangat saya untuk terus bisa menjadi manusia yang rendah hati dan sederhana. Semangat saya untuk terus belajar sepanjang hayat. Semangat saya untuk mencintai ilmu. Semangat saya untuk bisa terus sehat di usia senja. Dan semangat saya untuk mengejar beasiswa.

Mimpi Pendidikan Berkarakter dan Miris Nasib Guru



Masalah karakter kian naik daun sekarang ini. Apalagi dengan lahirnya Silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) “Berkarakter.” Siswa-siswa kita dituntut menjadi insan berkarakter positif dengan alatnya berupa Silabus dan RPP. Makin terbebanilah mereka. Penguasaan terhadap—minimal—10 mata pelajaran wajib, tuntutan harus mendapat nilai baik dari orang tua, sekarang ditambah pula menjadi insan berkarakter.
Tentu bukan hanya siswa yang pusing, ini pun menjadi tambahan pekerjaan bagi orang yang telah “mengorbankan” diri berprofesi guru. Betapa repotnya seorang guru yang setiap hari “kudu” dan wajib membuat RPP minimal sebanyak dua halaman, berceloteh minimal di tiga kelas berbeda perharinya dengan jumlah siswa minimal 30 orang, harus ditambah pula menjadikan siswa-siswanya insan berkarakter.
Menciptakan insan berkarakter tidaklah semudah mencatumkan “karakter yang diharapkan” pada kolom akhir Silabus atau RPP. Untuk menciptakan insan berkarakter tentunya seorang guru haruslah tuntas karakternya. Seorang pencipta sudah sepatutnya lebih baik dari ciptaannya. Bukan hanya itu, seorang guru harus sanggup memantau terus-menerus setiap siswanya. Guru harus memahami masalah siswanya secara detil dan menanamkan nilai-nilai positif dalam diri mereka secara perlahan. Ada kalanya ketika guru telah berhasil menanamkan satu nilai positif, muncul dua nilai negatif dalam diri mereka atas pengaruh lingkungannya. Kemungkinan lain adalah naik turunnya karakter mereka, disebabkan keremajaannya. Sehingga mereka belum mampu konsisten dengan karakter tersebut.
Sekarang Anda bayangkan jika seorang guru/wali kelas bertanggung jawab terhadap 40 siswa saja. Betapa banyak masalah yang harus mereka tangani. Seperti yang sering disampaikan para ahli, “tiap siswa adalah individu-individu yang unik.” Mereka bukan hanya akan menangani 40 masalah saja tapi bisa lebih dari itu karena tiap siswa bisa saja memiliki lebih dari satu masalah. Tidak mungkin mereka sanggup menangani masalah-masalah itu sendirian. Ingin meminta bantuan guru BK namun hanya ada beberapa guru BK di sekolah yang jumlah siswanya mencapai 300 orang. Ingin berkonsultasi pada kepala sekolah, hanya ada satu kepala sekolah dan ia pun terlalu sibuk mencari dana bantuan. Akhirnya guru pun memilih bersikap apatis terhadap perkembangan karakter dan masalah siswanya. Mereka hanya datang, mengajar, memberi tugas, dan pulang. Lalu muncullah paradigma-paradigma negatif dari guru, “kami tidak dibayar untuk mengurus karakter siswa, kami hanya dibayar untuk mengajar, itupun dengan bayaran yang memprihatinkan,” “mengurus keluarga kami saja sudah membuat pusing, apalagi ditambah mengurus anak orang lain yang bahkan tidak memiliki hubungan apapun dengan kami.”
Guru itu adalah tonggak kemajuan sebuah bangsa! Ketika Hiroshima dan Nagasaki di bom atom oleh Amerika, hal yang pertama ditanyakan oleh PM Jepang saat itu adalah, “berapa jumlah guru yang tersisa?” Negeri Matahari Terbit itu benar-benar paham bahwa negaranya boleh hancur berkeping-keping, daun-daun boleh berguguran, namun tunas-tunas baru harus terus tumbuh. Dan tunas-tunas itu ada di tangan mereka, GURU. Wajarlah jika saudara tua kita itu lebih maju 50 tahun dibanding Indonesia.
Lalu bagaimana mungkin seorang guru bisa menciptakan insan berkarakter jika mereka masih harus memikirkan cara memperoleh beras untuk beberapa minggu ke depan karena gaji mereka hanya bertahan di permulaan bulan? Bagaimana mungkin mereka bisa menciptakan insan berkarakter jika emosi dan nafsu masih menguasai mereka? Bukan akhlakul karimah yang mereka tunjukkan malah sebaliknya.
Siswa yang berkarater tidak bisa diciptakan secara instan, seperti memasak mie. Banyak faktor eksternal dan internal dari siswa yang sangat mempengaruhi perkembangan mereka. Lingkungan pergaulan yang tidak sehat, pola pikir peniru kebudayaan asing, dan lemahnya pendidikan agama merupakan secuil persoalan yang dihadapi siswa sekarang ini. Diperlukan sinergi yang baik antara guru dengan orang tua untuk terus memantau dan memandu siswa agar tetap pada rel yang benar.
Pemerintah perlu meningkatkan kesejahteraan guru secara MERATA. Dengan begitu guru benar-benar akan menjadi profesi yang profesional bukan hanya profesi pelarian. Banyak orang akan tertarik menjadi guru sehingga besar peluang bagi sekolah untuk melakukan seleksi, siapa yang sesungguhnya pantas disebut guru. Ciptakan lagi Sekolah Keguruan dengan seleksi ketat mencakup aspek IQ, EQ, dan SQ. Dengan begitu akan terlihat siapakah yang benar-benar berminat dan pantas menjadi guru. Hapuskan mata pelajaran yang TIDAK PENTING di sekolah, sehingga murid lebih fokus pada minat mereka. Bukan hanya dijejali dengan 13 teori dari 13 mata pelajaran yang berbeda dan tidak mereka sukai. Berikan siswa kesempatan seluas-luasnya untuk menekuni minat mereka dan tanamkan budi pekerti melalui pendidikan agama.
Sudah saatnya kita semua berbenah diri agar wacana menciptakan siswa yang berkarakter tak seperti peribahasa, “jauh panggang dari api.” Saatnya mewujudkan mimpi itu dan menghapus kata miris yang identik dengan profesi keguruan.

Mengubah Tradisi Rubah



Sekarang kata rubah sedang naik daun. Bagaimana tidak, orang semakin sering menggunakan kata tersebut untuk mengganti kata ubah. Dalam bahasa lisan banyak orang lebih nyaman menggunakan kata dirubah atau merubah ketimbang kata diubah atau mengubah. Kebiasaan menggunakan kata rubah dalam bahasa lisan akhirnya membawa kata tersebut ke jenjang yang lebih tinggi yaitu bahasa tulisan—artinya terjadi peningkatan stadium dari awalnya hanya keliru sekarang menjadi salah. Kesalahan tersebut juga telah menjangkiti berbagai tulisan di media massa cetak sampai judul berita di televisi. Bahkan saya beberapa kali membaca tulisan di buku pengetahuan menggunakan kata dirobah dan perobahan.
Kekeliruan ini sebenarnya disebabkan oleh penggunaan kata “berubah.” Orang sudah terbiasa dengan pelafalan kata tersebut sehingga mereka mengira bahwa kata dasarnya adalah “rubah.” Padahal kita semua tahu bahwa rubah adalah nama hewan. Kata dasar yang benar adalah ubah yang kemudian ditambahkan prefiks ber-, bukan kata rubah yang ditambahkan prefiks be-. Sedangkan mengenai kekeliruan kata robah saya belum mengetahui sebabnya.
Tampak sepele memang karena hanya berbeda pelafalan saja, lagi pula orang sudah tahu maksud kata tersebut. Namun kekeliruan yang sepele jika dibiasakan akan menjadi kesalahan dan membiasakan kesalahan berarti kita menjadi manusia yang berkarakter salah sehingga kita tidak lagi tahu mana yang benar. Kasus ini mirip dengan penggunaan kata graha yang seharusnya ditulis grha. Graha dalam bahasa Sanskerta berarti buaya sedangkan grha berarti rumah. Lalu menurut Anda apa arti tulisan ini: 1.Graha Bhakti Budaya dan 2. Graha Indah Permai? Kesalahan sepele ternyata menghasilkan makna yang jauh berbeda.
Manusia adalah masyarakat bahasa yang menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan mengidentifikasi diri. Sebagai masyarakat bahasa tentunya manusia harus setia terhadap kaidah bahasa yang dianutnya. Bentuk kekeliruan seperti di atas adalah wujud penghianatan bahasa—dalam kasus ini Bahasa Indonesia. Mengapa? Karena dengan terus-menerus melakukan kekeliruan tersebut kita akan membunuh kata ubah, menggantinya dengan kata rubah dan menggantinya lagi dengan kata robah. Anak cucu kita tidak akan lagi mengenal adanya kata ubah.
Itu hanyalah sedikit kasus yang hanya melibatkan satu kata saja, masih banyak wujud penghianatan bahasa yang dilakukan masyarakat bahasa. Seperti penggunaan bahasa “alay” atau pemindahan bahasa lisan (bahasa percakapan sehari-hari) ke bahasa tulis tanpa mengikuti kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Belum lagi penulis-penulis buku yang “katanya” sastrawan tapi bahasa tulisnya berantakan. Malangnya nasib Bahasa Indonesia terus dikhianati penuturnya.
Lalu akankah kata ubah lenyap dan digantikan hewan rubah, bahkan berubah lagi menjadi robah? Jawabnya ada pada tindakan kita, sudikah kita mengubah kebiasaan keliru tersebut? Sudikah kita sebagai masyarakat bahasa untuk setia terhadap kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar? Mari jauhkan Bahasa Indonesia dari ambang kepunahan bahasa. Ini bukanlah semata-mata tugas guru Bahasa Indonesia, sastrawan, editor bahasa atau siapapun yang bergelut di bidang bahasa, namun tugas masyarakat bahasa sebagai penutur Bahasa Indonesia.


- Copyright © Halaman Tian - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -