Indonesia
Sample text
Total Tayangan Halaman
Advertising
Translate
Social Icons
Labels
Followers
About Me
- Septian Cahyo Putro
- Depok, Jawa Barat, Indonesia
- Pendidik di Bizsmart School Depok
Labels
Blog Archive
Featured Posts
Pengalaman Bayar Pajak di Samsat Cinere dan Samsat Depok2 (Jl. Merdeka)
Bagi masyarakat Depok ada dua kantor samsat yang bisa jadi rujukan, pertama di Jalan Cinere atau biasa orang sebut Samsat Cinere, kedua di Jalan Merdeka atau biasa disebut Samsat Merdeka/Samsat Depok 2. Meskipun begitu, kalau sahabat mau bayar pajak bisa juga memanfaatkan fasilitas Samsat Keliling dan Samsat Gendong yang jadwalnya bisa dilihat di jejaring Bapenda Jabar.
Penulis ingin berbagi pengalaman bayar pajak kendaraan di kedua tempat tersebut. Tujuannya untuk membandingkan efisiensi dan efektivitas pelayanan di kedua tempat itu. Untuk tempat yang pertama yaitu Samsat Cinere, penulis pernah bayar pajak mobil di sini, sedangkan di tempat yang kedua yaitu Samsat Merdeka penulis bayar pajak motor. Di kedua tempat tersebut, penulis datang untuk bayar pajak pada waktu yang berbeda. Di Samsat Cinere itu jam 1 siang, sedangkan di Samsat Depok 2 jam 10 pagi.
Untuk Samsat Cinere, pelayanannya lebih rapi daripada Samsat Depok 2. Mungkin karena waktu itu ketika penulis datang, pengunjung di sana lebih sepi. Namun, yang jelas di sana alur pelayanannya lebih jelas dan terarah (ini opini pribadi penulis ya!). Jangan lupa sahabat yang mau bayar pajak bawa BPKB, STNK, sama KTP asli pemilik kendaraan bermotor ya! Lalu difotokopi masing-masing 1x dan beli map kertas. Di kedua tempat itu, kalau mau bayar pajak wajib bawa map kertas. Bedanya, kalau di Samsat Cinere warnanya bebas, tapi kalau di Samsat Depok 2 harus warna merah tua kalau penulis tidak salah ingat. Ingat ya! Map kertas, tapi bukan yang map cokelat apalagi map plastik.
Kalau di Samsat Cinere, sahabat akan langsung diarahkan ke desk pajak progresif, cek kelengkapan, terus nanti tinggal tunggu dipanggil sama desk berikutnya (ada di sebelahnya, nama desk-nya pengesahan.... agak lupa nih!). Nah, biasanya di desk pajak progresif BKPB akan dikembalikan, kalau tidak dikembalikan, biasanya pasti di desk berikutnya. Setelah dipanggil nama pemilik kendaraan bermotor oleh desk pengesahan tadi, sahabat akan diminta menunggu di depan desk pembayaran. Nanti, akan dipanggil lagi namanya dan diminta siapkan uang pas untuk bayar. Setelah bayar, lanjut ke desk pengambilan STNK. Di sini nama pemilik akan dipanggil dan diberikan lembat STNK yang sudah lunas pajaknya. Setelah itu, pulang deh!
Sementara itu, di Samsat Depok 2 kurang lebih tidak jauh berbeda. Namun, ada bagian penting nih! Di Samsat ini ketika kalian datang kalian akan diarahkan ke sebuah desk yang tidak ada namanya lalu berkas-berkas tadi akan diperiksa. Setelah diperiksa, berkas-berkas tersebut akan diberi tanda tangan di bagian muka mapnya dan diminta bayar Rp30.000! Wah ini sih namanya, PUNGLI! Padahal di desk tersebut si pemeriksa cuma kasih tanda tangan saja lho, masa minta Rp30.000. Setelah dari desk itu, kita akan diarahkan ke desk pajak progresif, pengesahan, pembayaran, dan terakhir ambil STNK. Kurang lebih sama dengan di atas.
Namun, kalau penulis perhatikan jika teman-teman datang dan langsung menuju ke desk pajak progresif, ini sebenarnya bisa aja lho! Biar tidak kena pungli. Masalahnya, kadang map/berkas yang tidak ada tanda tangan dari desk PUNGLI itu sering dikembalikan ke kalian dengan beragam alasan. Kurang ini, kurang itu, dan seterusnya, sedangkan map/berkas yang ada tanda tangannya langsung mulus ke desk berikutnya. Jadi, kalau mau bayar pajak di sini, pastikan benar-benar lengkap semua berkasnya! Dan langsung saja ke desk pajak progresif. Semoga, jika ada pejabat berwenang bisa sidak ke Samsat Merdeka sana, supaya tidak ada lagi ASN PUNGLI!
ASN dibayar negara pakai uang rakyat, kok masih juga bikin PUNGLI! Omong-omong, ini pengalaman bayar pajak di Samsat Merdeka yang penulis alami di tahun 2018 ya! Semoga sekarang sudah tidak begitu.
Sekian tulisan kali ini, semoga bermanfaat!
Remy Silado: Nakal yang Tahu Aturan
Mengapa Mukjizat Nabi Muhammad hanya Al Quran?
Flat Earth Theory, Dekonstruksi Derrida, Stephen Hawking dan Al-Quran
Perihal Salat Berjamaah
SIMAK UI: Cerita, Tips, dan RidhoNya
Kelahiran Nabi Muhammad Saw dan Perisitiwa di Sekitarnya
“ALLAH PANTESIN BUAT KITA”
“Kalo kita dateng ke Allah, Allah pantesin buat kita”
“Jabatan kita udek, dunia kita udek, Allah ga kita udek”
(Ust. Yusuf Manshur)
Kalimat nasihat sederhana ini selalu terngiang di telinga saya. Begitu juga dengan cerita yang mengikutinya. Ada anak muda, dapat panggilan kerja. Malamnya dia dapat saran dari neneknya untuk tahajud. Paginya karena tidak biasa tahajud dia ketiduran di bus, harusnya turun di Wisma Nusantara bablas sampai Arion.
Begitu bangun kaget dia lihat jam sudah jam 11. Akhirnya dia balik lagi naik bus yang sama, di tengah perjalanan bertemu bapak-bapak, mereka mengobrol dan ternyata tujuannya sama, mau ke Wisma Nusantara.
Begitu sampai di sana, anak muda ini kaget, ratusan orang mengantri untuk wawancara pekerjaan yang sama. Dan lebih kaget lagi si Bapak tiba-tiba bilang, “Suratnya mana surat?” Si anak muda bingung diberikanlah surat itu sama si Bapak. Lalu si Bapak bilang, “Ini saya yang tanda tangan nih! Yaudah ayo langsung ke kantor saya!”.
Si anak muda dengan kaget dan panik bilang, “Tapi kan saya telat pak?”, “Ya sama bosnya kan juga telat”, jawab si Bapak.
MasyaAllah, inilah yang disebut kuasa Allah. Kalau kita mengutamakan Allah dalam tiap urusan, maka Allah akan mudahkan urusan kita. Percaya deh!
Saya sering dapat tugas kuliah yang sama sekali saya tidak mengerti, sekalinya ada referensi bahasa Inggris (saya paling ribet baca bahasa Inggris), tapi ketika saya mohon sama Allah petunjuk, Alhamdulillah, selalu saja saya dapat buku yang di dalamnya udah mencakup semua jawaban ditambah lagi bukunya berbahasa Indonesia. Allahuakbar! Saat teman-teman saya masih pusing dengan tugasnya, saya sudah selesai. Hebatnya lagi, ini kejadian bukan Cuma sekali.
Kadang kita pusing-pusing cari referensi ke sana ke mari, buka buku ini itu, googling jurnal sampai kuota tiris, begadang-begadang tak keruan. Tapi kita lupa sama yang Maha Memiliki Ilmu, kita lupa kalau Allah sebenarnya yang punya itu ilmu. Dosen-dosen, buku-buku, peneliti-peneliti, professor-profesor, itu cuma perantara saja buat menyampaikan ilmu itu. Jadi kalau mau paham suatu ilmu, ya dekatkan saja sama yang Maha Memiliki Ilmu, kalau pendekatan kita bagus, insyaAllah dikasih ilmu yang orang lain belum tentu dapat. InsyaAllah!
Begitu juga dalam hal mencari rezeki. Kita manusia sering kalap kalau bekerja, berangkat pagi, pulang malam, sampai rumah tinggal capeknya. Lalu? Allah hanya dapat waktu sisa dari kita. Atau ada mahasiswa yang mati-matian cari beasiswa, tapi kita lupa kalau Allah yang punya rezeki itu. Allah kita tinggalkan, duniawi kita udek-udek. Coba deh dibalik, Allah dulu yang kita dekatkan, baru deh duniawi kita usahakan. InsyaAllah, hati lebih tenang.
Satu lagi, ada juga orang yang mati-matian mencari jodoh. Kenalan sana, kenalan sini, usaha dengan berbagai trik dan intrik, hehe. Tapi dia lupa, kalau Allah yang Maha Menciptakan. Coba deh, dekatkan diri pada penciptanya, kalau pendekatan kita baik, insyaAllah dikasih, mau sama ciptaan dia yang mana. Tapi juga jangan lupa, Allah selalu kasih yang terbaik buat kita, meski kadang bukan kemauan kita. Kalau sudah begini, ya balik lagi sama Allah. Supaya diberi hati yang ikhlas dan lapang.
Intinya, seperti kata Ust. Yusuf Manshur, “kalo kita dateng ke Allah, Allah pantesin buat kita!” Ini ciyus lho, beneran!
Tiada daya dan upaya, kecuali atas kehendak Allah Swt.
Septian Cahyo Putro, 29 Desember 2015
*Di sela tugas UAS dan berbagai kegundahan yang belum mereda.
Natal: Apakah benar hari kelahiran Yesus?
Berikut beberapa tinjauan mengenai sejarah natal yang saya ambil dari laman:
http://www.seputarnatal.com/sejarah_natal.php
http://www.jw.org/…/pertan…/pandangan-alkitab-tentang-natal/
http://www.arrahmah.com/…/17010-hari-natal-bukan-hari-kelah…
Andai Semua Guru seperti Mario Teguh
Awalnya saya adalah
orang yang tidak menyukai motivator. Saya menganggap mereka hanya menjual
kata-kata belaka. Menurut hemat saya, belajar dari seorang yang telah sukses
dan telah menjalani kerasnya hidup tentu lebih bermakna ketimbang mendengarkan
orasi seorang motivator.Djoko Kentjono: Master of Arts yang Rendah Hati.
Beliau sampai saat ini masih aktif mengajar di Jurusan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mengajar tiga kelas, mata kuliah
Morfologi. Bahkan beliau juga menjadi dosen pembimbing bagi tiga mahasiswa
tingkat akhir. Luar biasa bukan? Ketika saya tanya padanya mengapa masih terus
mengajar, ternyata jawabnya sederhana saja. “Supaya tidak banyak yang lupa.”
Ah, betapa cintanya beliau akan ilmu linguistik, sampai enggan melepaskannya
dari pikirannya—ingat usia beliau 79 tahun.








