Indonesia

Sample text

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Advertising

Advertising

Translate

Social Icons

Followers

About Me

Foto Saya
Septian Cahyo Putro
Depok, Jawa Barat, Indonesia
Pendidik di Bizsmart School Depok
Lihat profil lengkapku

Featured Posts

Analisis drama Kejahatan Membalas Dendam karya Idrus


Ekspresi Kepercayaan Idrus terhadap Janji Nippon dalam Drama Kejahatan Membalas Dendam
Oleh: Septian Cahyo P.

Idrus adalah salah seorang sastrawan yang berperan sebagai pelaku sejarah. Ia ikut merasakan masa-masa penjajahan Jepang sampai masa setelah Indonesia merdeka. Ia menuangkan segala peristiwa sejarah yang dialaminya dalam cerpen-cerpennya. Tapi yang menarik adalah Idrus menceritakan sejarah bukan seperti pengarang lainnya. Ia menceritakan sejarah dengan mengkriktik bangsanya sendiri. Ia menyuguhkan kebenaran dengan cara mengungkap keburukan dari bangsanya.

Salah satu karya Idrus yang mengkritisi bangsanya yaitu drama Kejahatan Membalas Dendam. Adapun tema utama dari drama tersebut adalah cinta segitiga, antara Ishak, Satilawati, dan Kartili. Ciri khas Romantik Idrus masih sangat kental pada drama ini sama halnya ketika ia menulis cerpennya Ave Maria. Cerpen yang pernah dicekal oleh Keimin Bunka Shidoso atau Kantor Pusat Kebudayaan Jepang dengan alasan judulnya yang terlalu kebarat-baratan.

Dalam Kejahatan Membalas Dendam Idrus menceritakan mengenai hubungan cinta antara Ishak dan Satilawati yang tidak direstui oleh ayah dari Satilawati. Salah satu penyebab ayahnya tidak menyetujui hubungan mereka adalah karena Ishak seorang penulis muda. Ia mencoba menghadirkan sebuah kebaruan dalam dunia kesusasteraan Indonesia melalui karya-karyanya. Ayah Satilawati yang juga seorang penulis dari golongan lama tidak menyetujui pemikiran Ishak. Ia kemudian menggugat karya Ishak sebagai karya yang tidak bermutu. Ishak yang merasa tertekan pergi ke desa meninggalkan Satilawati. Di sisi lain, Kartili yang ternyata juga menyukai Satilawati melihat hal ini sebagai sebuah kesempatan untuk mendapatkan cintanya.

Ketika di desa Ishak menjadi lebih giat bekerja di sawah, demi hasil padi yang melimpah untuk disetorkan kepada pemerintah. Ishak juga berhasil membuat penduduk desa tidak segan lagi menyerahkan berasnya kepada pemerintah guna keperluan perang. Singkat cerita hubungan Ishak dengan Satilawati akhirnya direstui oleh ayahnya berkat bantuan dari sang nenek Satilawati yang begitu besar jasanya. Kartili menjadi gila karena tekanan batin yang dialaminya.

Melalui dramanya ini Idrus ingin menggambarkan betapa pertentangan antara golongan tua dan muda selalu dimenangkan oleh golongan muda. Terlihat dari kutipan berikut:
“Dan dunia selalu membuktikan, bahwa pemudalah yang selalu menang dalam perjuangannya dengan angkatan lama.”(Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, hlm. 71)
Kutipan diatas merupakan perkataan Ishak kepada ayah Satilawati. Ia menyadarkannya bahwa angkatan baru hanya membutuhkan penghargaan dari angkatan lama, tidak lebih. Angkatan baru tidak pernah memaksa angkatan lama untuk menulis dengan gaya yang baru. Masing-masing memiliki kewajibannya sendiri, angkatan lama bertugas mempertahankan tradisinya, angkatan baru berusaha untuk mencari yang baru.

Melalui dramanya ini Idrus ingin membela angkatan baru termasuk dirinya, agar jangan takut “dimusuhi” oleh angkatan lama. Sejalan dengan pemikiran Chairil Anwar yang menganggap sajak-sajak Sutan Takdir Alisjahbana ketinggalan zaman. Ia bersama dengan Charil Anwar seolah ikut mengobarkan semangat untuk menciptakan suatu kebaruan dalam kesusateraan Indonesia. Seperti apa yang diungkapkan H.B. Jassin, “zaman Jepang melahirkan Chairil Anwar dan Idrus, masing-masing pembaharu puisi dan prosa...

Aspek lain yang kiranya penting untuk mendapat perhatian adalah ekspresi kepercayaan Idrus kepada pemerintah Nippon yang dilukiskan dalam Kejahatan Membalas Dendam. Awalnya memang sulit untuk dibuktikan keberpihakkan Idrus terhadap Nippon, jika hanya melihat cerpennya Ave Maria. Namun, dalam dramanya ini sangat terasa bagaimana pembelaan Idrus terhadap Nippon. Pembelaan-pembelaan tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut:
“Tiga tahun sudah Nippon di Indonesia. Selama ini kami hanya sebagai parasit. Jika ada keuntungan bagi kami, kami mendekat kepada pemerintah sebagai ayam diberi makan. Akan tetapi, jika tenaga harus dikerahkan, kami menjauh sebagai kucing dibawakan lidi, tetapi semua itu telah berakhir.....Dan serentak kami menceburkan diri ke dalam barisan ‘Prajurit Pembela Tanah Air’.” (Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, hlm. 42)
Kutipan di atas merupakan kutipan cerita yang dibacakan Asmadiputera kepada Suksoro yang ditulis oleh Ishak. Cerita tersebutlah yang dipandang tidak bermutu oleh Suksoro sebagai penulis golongan lama.

Melalui kutipan diatas terlihat bagaimana Idrus masih terpedaya dengan janji manis Nippon dengan slogan 3A-nya. Idrus benar-benar menganggap bahwa Nippon datang ke Indonesia sebagai saudara yang akan membawa bangsa ini menuju zaman yang terang. Padahal telah tertulis di buku-buku sejarah, tentang penderitaan rakyat Indonesia di bawah penjajahan Jepang yang hanya 3,5 tahun tidak kalah pedihnya dibandingkan penderitaan dijajah Belanda selama 3,5 abad.

Kutipan lain yang dapat memperkuat argumen ini yaitu:
“Tentang penyerahan padi. Mengapa mereka harus menyerahkan padi kepada pemerintah, bahwa mereka harus bergiat menanam padi dan menyerahkannya. Untuk perang, untuk kemenangan akhir kataku...” (Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, hlm. 58)
Kutipan diatas adalah perkataan Ishak kepada segenap penduduk desa yang sedang memanen padi di sawah. Perkataan tersebut tidak dimengerti oleh penduduk desa yang berbahasa Sunda karena menggunakan bahasa Indonesia. Akhirnya Ishak menceritakan hal ini kepada sang nenek, dan nenek itu pun tahu apa yang harus ia lakukan.

Dalam kutipan di atas Idrus bicara tentang penyerahan padi untuk perang. Pertanyaannya adalah perang dengan siapa? Bukankah musuh yang sebenarnya adalah Nippon? Nippon benar-benar pandai dalam memutar balikkan fakta. Mereka membuat propaganda-propaganda agar rakyat mau tunduk kepada Nippon. Rakyat Indonesia disuruh masuk kepada barisan jibaku, mereka harus menyerahkan hasil panennya kepada pemerintah, semua demi kepentingan Nippon dalam berperang melawan sekutu.

Di akhir cerita Idrus melukiskan semangat Ishak dalam bekerja sebagai petani. Ini merupakan bentuk simbolik Idrus yang menganjurkan rakyat Indonesia agar bekerja keras demi kepentingan Nippon, karena hasil panen akan diserahkan kepada pemerintah untuk ‘biaya’ perang.

Dalam karya Idrus ini terdapat unsur ‘sastra propaganda’, yang tujuannya mengubah pandangan atau paradigma rakyat Indonesia terhadap pemerintah Nippon. Tapi untunglah Idrus tidak berlarut-larut dalam kegelapan ini, sehingga pada karya-karya selanjutnya tidak lagi berisi propaganda atau pembelaan terhadap Nippon. Ia lebih mengedepankan kritik terhadap bangsanya setelah kemerdekaan, yang terlalu terlena akan euforia kemenangan.
     
                     










       










                                                                                                                                                                        Penulis
Tanda Tangan.jpg
                                                       

Analisis Karakter “Hidjo”


Analisis Karakter “Hidjo” dalam Novel Student Hidjo Karya Mas Marco Kartodikromo dengan Pendekatan Objektif
Oleh: Septian Cahyo Putro

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiferosX55xfDbnbECRg74CUsdC-rEff5bZRB6pZXr4m1E4oicB5bAifYgi57FqviTtpkK1LdzGmYyUQrh3BjAUlmBFL-iLPEtdRCRH226VwpNoMBeg0Ka-tYgPPAgZjMZkvR1zNqXlmfKB/s200/Student_hijo.jpgStudent Hijo karya Marco Kartodikromo, terbit pertama kali tahun 1918 melalui Harian Sinar Hindia, dan muncul sebagai buku tahun 1919. Merupakan salah satu perintis lahirnya sastra perlawanan, sebuah fenomena dalam sastra Indonesia sebelum perang. Buku ini diterbitkan kembali dengan dua versi pada tahun 2000, oleh Aksara Indonesia dan Bentang, keduanya penerbit dari Yogya. (wikipedia)

Menurut Jakob Sumardjo (2004: 245), novel Student Hidjo dikarang oleh Mas Marco Kartodikromo ketika ia dipenjarakanoleh pemerintah kolonial Belanda tahun 1918, seperti yang tertulis dalam pengantar penulis dalam novel tesebut. Berikut adalah kutipannya.

“Ini cerita pernah dimuat dalam surat kabar harian pangkuan kami: Sinar Hindia, di dalam tahun 1918.
Sesungguhnya ini karangan buah pena kami menjalani hukuman perkara persdelict di Civiel en Militair Gevangenhuis, di Weltervreden lamanya satu tahun. Meskipun di dalam penjara kami tidak bisa tulis-menulis di dalam surat kabar, tetapi kami bisa mengarang buku-buku seperti Sjair Rempah-Rempah, Student Hidjo, Matahariah, dan lain-lain.”

Oleh Bakrie Siregar, novel ini dipandang sebagai perintis tradisi sasra Indonesia karena telah menyuarakan semangat kebangsaan dan perlawanan terhadap kolonialisme.[1] Novel ini mencoba berkisah tentang awal mula kelahiran para intelektual pribumi, yang lahir dari kalangan borjuis kecil, dan secara berani mengontraskan kehidupan di Belanda dan Hindia Belanda.

Mas Marco secara lugas juga menunjukkan keberpihakannya kepada kaum bumiputra. Ia menggunakan tokoh Controleur Walter sebagai tokoh penganut politik etis yang mengkritik ketidakadilan kolonial terhadap rakyat Jawa atau Hindia. Novel inipun lahir sebagai sikap politik dari Mas Marco sendiri yang merupakan aktivis revolusioner yang berpindah dari penjara ke penjara.

Hidjo adalah seorang pemuda bangsawan Solo lulusan HBS yang akan belajar ke Belanda. Menjelang keberangkatannya ia ditunangkan dengan Biru, putri pamannya sendiri. Adapun Wardoyo adalah putra Regent Jarak dan memiliki adik bernama Wungu; Willem Walter anak controlleur (pengawas) Belanda di Jarak; sedangkan Betje adalah pacar Hidjo di Nederland.

Kisah diawali dengan rencana orangtua Hidjo menyekolahkan ke Belanda. Ayah Hidjo, Raden Potronojo, berharap dengan Hidjo ke Belanda, dia bisa mengangkat derajat keluarganya. Meskipun sudah menjadi saudagar yang berhasil dan bisa menyamai gaya hidup kaum priyayi murni dari garis keturunan, tidak lantas kesetaraan status sosial diperoleh, khususnya di mata orang-orang yang dekat dengan gouvernement, pemerintah kolonial. Berbeda dengan sang ayah, sang ibu Raden Nganten Potronojo khawatir melepas anaknya ke negeri yang dinilai sarat "pergaulan" bebas.

Pendidikan di Belanda ternyata membuka mata dan pikiran yang sangat besar bagi Hidjo. Hidjo sang kutu buku yang terkenal "dingin" dan mendapat julukan "pendito" sampai onzijdig, banci, akhirnya pun terlibat hubungan seksual di luar nikah dengan Betje, putri directeur salah satu maatschapij yang rumahnya ditumpangi Hidjo selama studi di Belanda. Pertentangan batin karena melakukan aib dan panggilan pulang ke Jawa akhirnya menguatkan Hidjo untuk memutuskan tali cinta pada Betje.

Persoalan menjadi sedikit berliku ketika perjodohan dengan Raden Adjeng Biroe yang masih sanak keluarga, meskipun sesungguhnya Hidjo terpikat dengan Raden Adjeng Woengoe, putri Regent Jarak yang sangat cantik. Di akhir cerita, ketegangan mendapat penyelesaian. Kebebasan memilih dan bercinta diangkat ketika Hidjo tidak langsung setuju pada pilihan orangtuanya akan tetapi mencari idamannya.

Rumus perjodohan berubah. Hidjo dijodohkan dan menikah dengan Woengoe, sementara Biroe dengan Raden Mas Wardojo kakak laki-laki Woengoe. Semua, baik yang menjodohkan dan yang dijodohkan, menerima dan bahagia.

Watak tokoh Hidjo seakan menjadi kelemahan dalam novel ini. Tokoh Hidjo yang pada awalnya digambarkan lelaki setia yang bertanggung jawab ternyata sebaliknya. Ia juga memiliki watak begitu patuh pada ibunya, seperti pada kutipan berikut (percakapan Hidjo dengan Ibunya):
“Jangan nakal ya, Jo,” kata ibunya kepada Hidjo.
Hidjo hendak tertawa mendengarkan perkataan ibunya itu, tetapi ditahannya sambil berkata:
“Tidak!”
“Kalau kamu di negeri Belanda sampai nakal seperti anak-anak Jawa lainnya yang ada di negeri Belanda, kamu saya tinggal mati,” kata Raden Nganten.
“Tidak, Bu!”, menjawab anaknya... (Student Hidjo, hlm. 9-10)

Dari kutipan di atas nampak jelaslah pergeseran sifat Hidjo yang awalnya begitu penurut pada Ibunya, namun ketika telah bersekolah di Belanda ia melanggar janjinya itu. Ia berpacaran dengan Betje dan bahkan menghamilinya. Betje lalu memutuskan mengugurkan kandungan dengan sebab Hidjo berniat memutuskan pelajaran dan hendak kembali ke pulau Jawa. Akhirnya dengan sangat tidak bertanggung jawab ia kembali ke Jawa meninggalkan Betje.

Watak yang ditunjukkan Hidjo ini seolah sindiran terhadap kaum muda terpelajar. Tujuan awal mereka belajar namun ternyata setelah sampai di kota tempat mereka hendak menimba ilmu, tujuan tersebut seakan terlupakan. Inilah fenomena yang sering terjadi pada sebagian kaum terpelajar Indonesia hingga saat ini. Ternyata kritikan tersebut masih berlaku hingga zaman sekarang.

Berhubung Hidjo adalah orang Jawa, secara tidak langsung Mas Marco juga menjelekkan pria Jawa dengan sindiran tersebut. Aneh memang, karena Mas Marco sendiri juga seorang yang menjunjung tinggi budaya Jawa. Hal ini terbukti dari pakain khas yang dikenakannya, yaitu jas dengan kain batik dan selop ala Jawa.

Hal lain yang kiranya perlu mendapat perhatian adalah perasaan cinta Hidjo kepada Biru yang begitu cepat hilangnya dan digantikan oleh Wungu. Padahal cinta Hidjo begitu besarnya pada Biru, seperti dalam kutipan berikut:
“Kalau saya pergi ke negeri Belanda, tentu susah sekali yang saya tinggalkan, sebab kamu rupa-rupanya cinta sekali kepada saya. Begitu juga saya, meskipun saya ini seorang yang tidak suka bicara dan tidak suka main-main sama orang perempuan, tetapi kalau satu hari saya tidak tahu rupamu...” (Student Hidjo, hlm. 20)

Jakob Sumardjo mengatakan kelemahannya tampak pada perubahan karakter yang secara empiris sulit dimengerti. Betapa mudah Hidjo melupakan Biru dan menikahi Wungu, dan alangkah gampang Wungu mencintai Hidjo tanpa perkenalan yang mendalam.[2]

Karena perubahan wataknya yang begitu drastis dan tiba-tiba maka tokoh ini saya sebut tokoh ‘bulat sempurna’. Mas Marco seolah menggambarkan watak Hidjo yang amat buruk, yaitu pembohong, suka main perempuan, penghianat, dan tidak bertanggung jawab dengan blangkon yang menutup kepalanya.

Novel ini bagai pedang bermata dua, di satu sisi merupakan kecaman pengarang terhadap tingkah laku orang Belanda di Indonesia yang ternyata banyak berubah sikap setelah berada di Indonesia. Dan sisi lain mencemarkan kehormatan tanah kelahiran dan budayanya sendiri, Jawa.

 




[1] Yudiono K.S.,Pengantar Sejarah Sastra Indonesia, (Jakarta: Grasindo, 2007) hlm. 110
[2] Yudiono K.S.,Pengantar Sejarah Sastra Indonesia, (Jakarta: Grasindo, 2007) hlm. 110

Sastra Pencerahan


SASTRA PENCERAHAN
Oleh: Septian Cahyo P.
Apakah sastra pencerahan itu? Sebelum membahas lebih jauh mengenai hal tersebut marilah kita pahami dulu maknanya secara morfologi dan sintaksis. Secara morfologi pencerahan berasal dari {pe-}+{cerah}+{-an}. Imbuhan {pe-/-an} pada kata tersebut berarti “proses”, oleh karena itu pencerahan dapat dimaknai proses yang mencerahkan atau proses membuat jadi cerah. Lalu secara sintaksis sastra pencerahan memiliki pola MD (menerangkan-diterangkan), hal ini bertentangan dengan pola bahasa Indonesia yang seharusnya DM (diterangkan-menerangkan). Apakah hal ini merupakan sebuah kesalahan atau kesengajaan?
Dapat saya simpulkan pola MD pada frase sastra pencerahan memiliki makna yaitu “bukanlah sastra yang harus dicerahkan tetapi sastra itulah yang harus mampu mencerahkan”. Lalu seperti apakah sastra yang mampu mencerahkan itu?
Faruk, seorang doktor ilmu sastra dari UGM berpendapat, sastra Indonesia selalu menjadi “sastra yang melawan”. Sejarah sastra Indonesia modern yang berusia sekitar seabad telah menciptakan karya-karya sastra dan sastrawan yang amat sensitif sekaligus rentan terhadap rangsangan-rangsangan pragmatisme. Mereka manjadi cenderung gelisah dan digelisahkan oleh situasi eksternal yang mengelilinya dan mudah sekali terpicu olehnya, baik dalam  bentuk kepatuhan yang penuh ataupun perlawanan yang keras atau mungkin setengah hati. Dorongan dan tuntutan ekonomi, sosial, dan moral membuat mereka merasa tidak tenang dalam menjalani aktvitas mereka. Sastra Indonesia menurut Faruk diibaratkan sebagai seorang penari yang tidak pernah menikmati tubuhnya sendiri. Ia selalu dibuat gelisah oleh orang lain yang menontonnya, menjadi serba kikuk, menimbang-nimbang, dan akhirnya memaksakan diri untuk diterima dan diberi posisi meski sebagai musuh para penonton itu.
Apa yang dinyatakan Faruk memang benar adanya, dan hal itu bukanlah sesuatu yang salah, jadi tidak perlu ada yang dipersalahkan. Sastra menggambarkan realitas masyarakat, lalu apa gunanya sastra yang tenang dan damai jika masyarakatnya masih belum merasakan hal tersebut? Indonesia adalah sebuah negara, sebuah bangsa, sebuah masyarakat, yang selalu berada dalam kancah pertempuran dan pergolakan, tempat orang selalu takut akan kehilangan kesempatan. Bagaimanapun, dalam kancah peperangan kehilangan kesempatan memang selalu berarti kematian, kehilangan untuk selama-lamanya.
Setiap kesusateraan yang baik memberi pencerahan kepada manusia, pembacanya. Sekalipun itu pencerahan yang bersifat subjektif, dimana terjadi dialog antara sastra dan seseorang yang membacanya. Namun juga pencerahan dalam pengertian objektif, yang bisa dirasakan denyutnya oleh semua manusia yang membaca. Dengan sentuhan estetiknya, sastra memberi katarsis sehingga menjadi inspirasi pencerahan manusia untuk membebaskan keterjajahan dirinya dari kekuasaan yang mengingkari hakikat manusia, hakikat alam, dan daulat Tuhan.
Sastra yang mencerahkan bukan saja terobsesi semata oleh wadag bahasa, melainkan juga menghidupi bahasa. Ia tidak sekedar berurusan dengan indahnya tubuh, melainkan sekaligus memberi makna keindahan terhadap tubuh. Ia bersumber dari air religiositas (suatu dimensi kedalaman yang mulai menghilang dalam keber-agama-an) sebab ia ingin melepaskan dahaga hakikat kemanusiaan kita.
Karenanya, sastra yang mencerahkan berlawan terhadap penjajahan kemanusiaan, dan bentuk perlawanannya itu: ada yang melalui estetisme; ada yang menjadi saksi; bahkan ada yang melawan. Tanpa menengok kepada seruan “Kita harus meningkatkan dari sastra perlawanan, menjadi sastra yang melawan”, maka sastra yang mencerahkan secara niscaya mengandung kedua resiko tersebut sebab perubahan itu sendiri bagian dari berjalannya sejarah, berjalannya hukum alam.[1]
Jadi, dapat disimpulkan bahwa sastra pencerahan adalah sastra yang bukan hanya rentetan bunyi tidak bermakna atau bunyi yang sulit dimaknai tapi yang terpenting adalah memiliki makna, menampilkan realitas kehidupan. Kedua sastra pencerahan mengandung religiositas dalam setiap lariknya. Religiositas ada yang tumbuh sebab religi, dan ada yang tidak sebab religiositas itu perasaan keagamaan (menurut William James), atau penghayatan terhadap hidup (menurut Y.B. Mangunwijaya). Ketiga sastra pencerahan hendaknya tidak mengandung unsur “sastra koran bekas”. Maksudnya sastra yang hanya mementingkan “asal dimuat” pada media cetak. Berjalan di tempatnya sastra kita hari ini, ada keterkaitan erat dengan tiadanya kritik sastra, lantas sastrawan menuduh kritikus atau akademisi sebagai mandul. Bagaimana mungkin memberi apresiasi, kritik, terhadap “sastra koran bekas”? Tiadanya kritik justru disebabkan pada tiadanya karya sastra yang laya diperhitungkan oleh kritik. Keempat, sastra pencerahan selalu melawan penjajahan kemanusiaan.   




[1] Abdul Wachid B.S., Sastra Pencerahan, (Saka: Yogyakarta, 2005) hlm. 80 

- Copyright © Halaman Tian - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -