Indonesia

Sample text

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Advertising

Advertising

Translate

Social Icons

Followers

About Me

Foto Saya
Septian Cahyo Putro
Depok, Jawa Barat, Indonesia
Pendidik di Bizsmart School Depok
Lihat profil lengkapku

Featured Posts

Esai Belenggu



Tono sebagai Tokoh Male Feminis dan Kontra Male Feminis dalam Novel Belenggu Karya Amijn Pane
Oleh: Septian Cahyo P.

Teeuw berpendapat, Belenggu jauh lebih tinggi nilainya daripada kebanyakan penerbitan Balai Pustaka, tetapi justru Balai Pustaka merasa perlu menolaknya dengan alasan yang lemah. Balai Pustaka menolak novel ini untuk diterbitkan karena bicara masalah perselingkuhan. Tema perselingkuhan kala itu masih menjadi tema yang tabu bagi masyarakat Indonesia dan dianggap membuka aib bangsa Indonesia sendiri.

Novel ini memiliki nilai kebaruan yang dapat dilihat dari segi tema, gaya penceritaan pengarang, maupun bentuk kalimatnya. Dari segi tema novel ini tidak lagi mengangkat masalah Timur dan Barat, perkawinan adat, ataupun pertentangan kaum tua dan muda. Armijn mengisahkan konflik batin yang dialami tokoh-tokohnya. Dilihat dari gaya penceritaannya novel ini berbeda dari novel-novel terbitan Balai Pustaka sebelumnya. Armijn Pane adalah yang pertama menampilkan arus gaya kesadaran. Sehingga dibutuhkan kesadaran dan perhatian yang tinggi saat membaca novel ini. Armijn juga menampilkan kebaruan dalam hal penulisan kalimat pada novelnya ini. Kalimat-kalimat dalam Belenggu pendek dan lugas.

Intisari dari novel ini adalah konflik batin antara tokoh dokter Sukartono, Tini, dan Rohayah. Tono (suami Tini) yang sibuk sebagai dokter akhirnya melalaikan tugasnya sebagai seorang suami. Sedangkan Tini yang menyukai kegiatan-kegiatan sosial sibuk pula dengan kegiatannya sendiri. Ia melupakan kedudukannya sebagai seorang istri dokter. Rumah tangga mereka terbelah oleh egoisme masing-masing. Tono yang merasa kurang mendapat perhatian dari istrinya bertemu Rohayah salah seorang pasiennya, dan akhirnya mereka menjalin hubungan perselingkuhan. Rohayah begitu lembut dan penyayang membuat Tono kerasan dengannya. Singkat cerita, Tono dan Tini akhirnya bercerai. Tono yang berharap dapat menikah dengan Rohayah tidak dapat mewujudkan keinginannya, karena Rohayah lebih memilih meninggalkan Tono.

Di akhir cerita setiap tokoh menempuh jalan hidupnya masing-masing. Tono meneruskan sekolah kedokterannya, Tini pergi ke Semarang menjadi seorang aktivis sosial, sedangkan Rohayah pergi ke Nieuw Caledonie, meneruskan profesinya sebagai pekerja seks komersial.

Watak tokoh Tono digambarkan dalam novel ini yaitu dermawan, menyayangi anak-anak, pekerja keras bahkan sampai melupakan istrinya, penyayang, romantis. Tono adalah seorang dokter yang rindu akan kasih sayang, disebabkan istrinya Tini yang sangat kurang perhatian pada dirinya begitu pula Tono yang jarang memperdulikan istrinya. Akibat dari kerinduan akan kasih sayang itu, akhirnya Tono berselingkuh dengan Rohayah, bahkan berniat menceraikan istrinya. Rohayah, seorang pekerja seks komersial, memiliki sifat yang amat penyayang dan lembut, membuat Tono begitu menghargainya.

Sikap Tono dalam memperlakukan dua orang wanita ini dapat dikatakan dua sifat yang bertolak belakang. Pertama, ia bersikap kontra male feminis terhadap Tini dan kedua, ia bersikap male feminis kepada Rohayah. Kedua sikap tersebut tergambar dengan jelas melalui watak Tono, meski tidak terjadi secara mutlak. Maksudnya, tidak sepenuhnya Tono bersikap kontra male feminis terhadap Tini, terkadang ia juga menunjukkan sikap male feminis-nya kepada wanita itu, begitu pula sikapnya terhadap Rohayah.

Istilah male feminis bagi kalangan feminis di Indonesia masih sangat baru dan belum terdengar akrab di telinga. Persoalannya jelas, feminis di Indonesia dapat dikatakan baru berjalan kurang lebih 15 tahun ini, tepatnya dimulai pada pertengahan tahun 1980-an. Itupun baru berupa pergerakan feminisme dan belum sampai pada taraf studi yang intensif yang berupa pengembangan wacana yang kritis dan analisis  sifatnya, apalagi masalah feminis laki-laki.[1]

Kaum laki-laki yang ikut berjuang melawan penindasan terhadap perempuan lebih tepat dikatakan sebagai kelompok pro-feminis (male feminis). Sebuah bentuk dekonstruksi, ketika istilah male feminis, berarti akan ada paradoksal yang menyatakan kebalikannya dalam hal ini bisa disebut kontra male feminis. Hal ini merupakan bentuk dari oposisi biner. Kontra male feminis merupakan kebalikan dari male feminis. Jika male feminis mempunyai sifat menghargai terhadap perempuan, maka kontra male feminis adalah mempunyai sifat menentang perempuan.

Tono menunjukkan sikap kontra male feminis-nya terhadap Tini. Hal ini dapat dibuktikan dari sikap Tono yang berselingkuh dengan Rohayah. Apapun alasannya perselingkuhan adalah pengkhianatan. Perselingkuhan itu menunjukkan sikap Tono yang tidak menghargai perempuan. Bukti lain yang menunjukkan sikap kontra male feminis Tono yaitu ketika ia kembali tidak menghargai Tini sebagai istrinya. Ketika Tini sedang bermain piano di suatu pesta, Tono malah pergi meninggalkannya untuk menemui Rohayah. Ketika itu, Tono hendak langsung pergi namun diingatkan oleh temannya yang bernama Mardani untuk berpamitan dengan Tini terlebih dahulu. Bila tidak diingatkan ia pasti akan langsung pergi. Tono berpamitan kepada istrinya hanya dengan mengatakan, “Aku pergi...” (Belenggu, hlm. 88).

Meski begitu, Tono juga menunjukkan sikap male feminis-nya terhadap Tini. Hal ini dapat dilihat dari sikap Tono yang memberikan kebebasan bagi Tini untuk bergiat dalam kegiatan sosial. Ia menghargai sikap sosialis Tini.

Selanjutnya mengenai sikap male feminis Tono terhadap Rohayah. Sikap tersebut dapat dilihat melalui kutipan berikut:
Dia (Tono) mengangguk lalu pergi. Tetapi dia merasa kasihan juga meninggalkan Yah seorang diri saja” (Belenggu, hlm. 88).

Dalam hatinya Tono begitu menyayangi Rohayah, kutipan di atas hanyalah salah satu bukti nyata kasih sayang Tono kepadanya. Ia tidak mampu terlalu lama meninggalkan Rohayah. Bahkan ketika Tini pergi ke luar kota ia sering menginap di rumah Yah. Selain sikap kasih sayangnya kepada Tini, ia juga menghormati Tini karena kecerdasannya. Tini mengajarkan banyak hal kepada Tono. Dengan seorang bekas pelacur, ternyata dokter Tono mampu ditandingi perkataan dan pemikirannya. Kutipan berikut menunjukkan bahwa Rohayah adalah perempuan yang cerdas, karena rajin membaca buku.
“Tuanku banyak bukunya, dia suka membaca. Aku coba membaca, karena kulihat dia tenang kalau membaca. Mulanya tiada lut, kemudian lambat laun hati jiwaku terpendam oleh bacaan.”(Belenggu, hlm. 50).

 Sikap kasih sayang dan penghormatan kepada Yah ini yang menjadikan Tono seorang tokoh male feminis. Meski begitu, ternyata Tono juga menunjukkan sikap kontra male feminis-nya terhadap Rohayah. Sikap ini ditunjukkan melalui kutipan berikut:
“Tono menghampirinya. Jarinya menunjuk muka Yah. Katanya dengan keras: “Sipatmu tidak dapat berubah, kerbau suka juga kepada kubangan. Dalam lumpur tempatmu, kembalilah engkau kesana.”

Dapat ditarik kesimpulan bahwa Tono memiliki dua sifat feminis yang saling bertentangan. Mungkin ini adalah salah satu alasan Jassin yang berpendapat “orang-orang yang dilukiskan dalam roman ini hampir-hampir menyerupai karikatur, karena terlampau dilebih-lebihkan; boleh jadi dengan sengaja, boleh jadi juga tidak...” Penggambaran watak tokoh Tono cenderung tidak tegas dan tampak dibuat-buat.


  
    


[1] Veri Dani Wardani, Male Feminis dan Kontra Male Feminis dalam Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Skripsi, (Universitas Negeri Semarang, 2005) Hlm. 21

“Yang Menang dan Yang Kalah” dalam Datangnya dan Perginya Karya A.A. Navis


Nama lengkapnya Ali Akbar Navis, lahir di Padang Panjang, Sumatra Barat, pada tanggal 17 November 1924. Navis memulai karir penulisannya ketika berumur tiga puluhan. Karyanya banyak dimuat di beberapa majalah, seperti Kisah, Mimbar Indonesia, Budaya, dan Roman. Tema-tema yang muncul dalam karya-karya A.A. Navis biasanya bernafaskan kedaerahan dan keagamaan sekitar masyarakat Minangkabau.

Navis terkenal sebagai sastrawan ironi bahkan sarkasme, karena karya-karyanya yang menyindir kehidupan sosial-agama masyarakat yang terlalu kaku atau terlalu primitif.  Salah satu karyanya yang akan saya angkat dalam pembahasan kali ini adalah cerpennya yang berjudul Datangnya dan Perginya. Cerpen tersebut memiliki klimaks yang menarik yaitu konflik batin tokoh-tokohnya. Konflik tersebut diakibatkan belenggu kebenaran, kebahagiaan, dan keimanan. Konflik batin itulah yang menjadi nafas cerita ini.

Garis besar dari cerpen Datangnya dan Perginya yaitu diawali dengan kemunculan tokoh ayah Masri yang menerima surat dari anak lelakinya yang dahulu pernah diusirnya. Masri diusir oleh ayahnya karena memergoki sang ayah sedang berkencan dengan pelacur. Namun akhirnya sang ayah sadar akan perbuatannya. Ia sadar telah gagal menjadi seorang ayah dan menjadi marbot. Masri telah berhasil menyadarkan sang ayah dengan perkataan yang menyentuh hati sang Ayah sebelum kepergiannya.

Singkat cerita Masri telah berkeluarga dan menikah dengan seseorang yang bernama Arni. Ia kemudian mengajak ayahnya untuk tinggal bersamanya. Sang ayah merasa terharu sekali dengan ajakan anaknya. Anak yang telah diusir dan ditamparnya, tidak menyimpan dendam sama sekali kepada ayahnya. Akhirnya ayah Masri pergi ke rumah anaknya, disana ia bertemu Iyah, seseorang yang dikenalnya sebagai mantan istrinya. Iyah memberi tahu ayah Masri bahwa Arni adalah saudara kandung Masri, tapi Iyah tidak tega menghancurkan kebahagiaan anaknya. Cerita ini diakhiri dengan perdebatan antara Iyah dengan mantan suaminya (ayah Masri).

Dalam cerpennya kali ini A.A. Navis kembali mempertentangkan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Sama seperti cerpen Robohnya Surau Kami yang fenomenal itu. Pola yang digunakan dalam cerpen ini pun hampir sama dengan cerpen Robohnya Surau Kami. Ada seseorang yang menyadarkan orang lain. Dalam cerpen Datangnya dan Perginya, Navis menampilkan tokoh Masri yang menyadarkan sifat buruk ayahnya yang suka main perempuan, layaknya Ajo Sidi yang menyadarkan Kakek bahwa keimanan kepada Tuhan harus diimbangi dengan kerja keras.

Penyadaran yang dilakukan oleh Masri ini dilakukan dengan perkataannya yang sederhana, terlihat dari kutipan berikut:
“Kalau aku kurang ajar, bukan salahku. Perbuatan Ayah yang menyebabkan aku begini. Ayah yang menyebabkan aku lahir tanpa kemauanku! Setelah aku lahir, Ayah lagi yang merusaknya!”
Dalam kutipan diatas terlihat jelas bagaimana gaya sarkasme A.A. Navis. Ia begitu tegas memperingatkan kepada para orang tua agar menjadi tauladan yang baik bagi anak-anaknya.

Konflik antara Masri dengan ayahnya ini adalah konflik pertama yang terjadi antar tokoh. Konflik tersebut dimenangkan oleh Masri, karena berhasil membuat ayahnya sadar dan bertobat. Konflik manusia dalam cerpen ini dibangun melalui dialog tokoh-tokohnya. Konflik tersebut berupa kenyataan atau kehidupan sehari-hari. Ini adalah ciri khas dari A.A. Navis dalam menyajikan ceritanya. Ia sering mempertentangkan kebenaran yang tidak pasti.

Ciri tersebut semakin terasa ketika pembaca sampai pada klimaks cerita. Pada klimaksnya ayah Masri yang hendak bertemu dengan Masri disambut dengan kenyataan pahit dari mantan istrinya. Ia mengatakan bahwa Arni yang saat ini menjadi istri Masri ternyata saudara kandung Masri. Mendengar hal itu, ayah Masri sangat terkejut dan hendak memberitahukan ihwal sebenarnya kepada Masri dan istrinya. Ayah masri berpendapat bahwa hal tersebut adalah dosa. Ayah Masri yang telah bertobat berkata, “Aku tak sanggup menghadapi kutukan Tuhan”.  Namun, Iyah menghalanginya, ia berkata:
“Biarkan mereka berbahagia dalam ketidaktahuannya”

Konflik tersebut akhirnya dimenangkan oleh Iyah. Ayah Masri yang pada awalnya begitu kokoh pendiriannya akhirnya memilih untuk pergi (“...laki-laki itu melangkah dengan tenang ke muka, tapi kepalanya tepekur sebagai orang kalah”). Konflik antara Iyah dengan ayah Masri bermakna konflik antara keduniaan dan keakhiratan, antara kebahagiaan dunia dan dosa. Iyah sebagai tokoh yang berusaha keras menjaga kebahagiaan anak-anaknya melawan keimanan ayah Masri yang begitu takut akan dosa. Kepergian ayah Masri menandakan kemenangan bagi keduniaan/kebahagiaan dunia (sosial).

Lagi-lagi A.A. Navis memenangkan aspek duniawi dibanding akhirat sama seperti pada cerpen Robohnya Surau Kami. Perbedaannya adalah dalam cerpen Datangnya dan Perginya pihak yang kalah (ayah Masri) memilih untuk tetap menjalani kehidupan agamisnya dan menjauhi dosa. Sebuah penyesalan yang dirasakan tokoh ayah Masri adalah dia tahu kebenarannya namun harus menutupinya dan ini adalah perbuatan dosa. Lain halnya pada cerpen Robohnya Surau Kami, pihak yang kalah (Kakek) tanpa alasan yang jelas malahan bunuh diri bukannya bertobat dan memperbaiki kehidupannya. Peristiwa bunuh diri Kakek ini adalah salah satu bentuk sarkasme yang ditujukan kepada orang-orang yang imannya lemah.

Sebuah pilihan yang sulit harus ditanggung oleh ayah Masri, di satu sisi ia harus mempertahankan keimanannya, tapi di sisi lain ia tidak ingin merusak kebahagiaan anak-anaknya. Akhirnya ia memilih untuk pergi. Mungkin inilah makna dari judul cerpen tersebut, datangnya sang ayah untuk melihat kebahagiaan anaknya namun kenyataan pahit telah membuatnya pergi meninggalkannya.

Hubungan Bahasa dan Budaya


 Hubungan Bahasa dan Budaya

Septian Cahyo P.
(Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta)

Abstract
Language have as high as position with the culture in society. The two of them like two side coin that never be separate. The relation the two of them is coordinately. Language is instrument to defend culture and culture influence language that used by the speaker. Some of the philosopher argued that language obtainable culture, social structure, and ideology the speaker. Therefore, the aim of this writing is to discribe do the language shape human world view? And do the culture influence language or the other way? Finally, obtainabled conclusion that language did not shape human world view and the culture influence language dominantly.

Keywords: bahasa, budaya, pengaruh, pandangan


Pendahuluan
Bahasa dan budaya adalah dua bentuk hasil pemikiran manusia. Banyak ahli yang mengemukakan teorinya mengenai kaitan antara bahasa dan budaya, salah satunya Willem von Humboldt seorang filosof Jerman. Menurutnya “language by its very nature represents the spirit and national character of a people (bahasa adalah repesentasi/perwujudan semangat alami dan karakter nasional masyarakat)”(Steinberg dkk, 2001: 244). Humboldt yakin setiap bahasa di dunia pasti merupakan perwujudan budaya dari masyarakat penuturnya. Jadi, pandangan yang dimiliki oleh suatu masyarakat bahasa tertentu akan tercermin atau terwujud dalam bahasanya. Dan ternyata pendapat Humboldt juga didukung oleh para linguis ternama seperti Edward Sapir (1929) dan Alfred Korzybski (1933).
Bahasa merupakan produk budaya. Bahasa adalah wadah dan refleksi kebudayaan masyarakat pemiliknya. Koentjoroningrat dalam Chaer (1995:217) menyatakan kebudayaan itu hanya dimiliki manusia dan tumbuh bersama berkembangnya masyarakat. Berbagai pendapat para ahli mengenai hubungan antara bahasa dan kebudayaan membuat tema ini menarik untuk dikaji lebih lanjut. Sehingga pada akhirnya dapat melahirkan teori-teori baru mengenai hubungan keduanya.    
Penulisan artikel ini bertujuan untuk memberikan penjelasan apakah benar bahasa membentuk pandangan masyarakat penuturnya? Apakah bahasa mempengaruhi budaya ataukah sebaliknya? Saya akan mulai menggambarkan persoalan di atas dengan menjelaskan pengertian bahasa dan budaya, kemudian memberikan teori-teori mengenai bahasa yang mempengaruhi pandangan manusia, dan terakhir menjabarkan pengaruh bahasa terhadap budaya atau sebaliknya.

Pengertian Bahasa
Kridalaksana dalam Chaer (2003:32)memberikan pengertian bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri. Sebagai suatu sistem, bahasa sekaligus bersifat sistematis. Artinya bahasa tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak, dengan kata lain, bahasa itu bukan merupakan suatu sistem yang tunggal, tetapi dari subsistem, seperti fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik. Sedangkan arbitrer (“mana suka”) di sini artinya tidak ada hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud lambang tersebut.
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi III (2005:88) disebutkan bahwa:
1.      bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota satu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri;
  1. bahasa merupakan percapakan (perkataan) yang baik.
Pendapat lainnya dikemukakan oleh Brown dan Yule (1983: 1) yang menyatakan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi. Lebih dari itu, kedua pakar linguistik ini menyebutkan dalam penggunaannya (language in use) bahasa  merupakan bagian dari pesan dalam komunikasi. Dalam penggunaan bahasa menurut Brown dan Yule, hal ini disebut dengan istilah ‘transaksional’ dan ‘interpersonal’. Artinya, ada kebiasaan dan kebudayaan dalam menggunakan bahasa sebagai media/alat berkomunikasi.
Tidak jauh berbeda dengan pendapat di atas, Noam Chomsky, Gorys Keraf, dan Sturtevent mengungkapkan pengertian senada mengenai bahasa, yaitu sebagai berikut:
1.         Menurut Sturtevent, bahasa adalah sistem lambang sewenang-wenang, berupa bunyi yang digunakan oleh anggota-anggota suatu kelompok sosial untuk bekerjasama dan saling berhubungan.
2.         Menurut Chomsky, language is a set of sentences, each finite length and contructed out of a finite set of elements.
3.         Menurut Keraf, bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat, berupa lambang bunyi suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. (diunduh dari http://anaksastra.blogspot.com pada 27 Juni 2012)
Pengertian Budaya
Hakikat kebudayaan sangat kompleks sehingga para ahli selalu memberikan pengertian, pemahaman dan batasan yang bervariasi. Wilson dalam Sibarani (1992:99), mengatakan bahwa kebudayaan adalah pengetahuan yang ditransmisi dan disebarkan secara sosial, baik bersifat eksistensi, normatif maupun simbolis yang tercermin dalam tingkah laku dan bendabenda hasil karya manusia.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Budaya (2005:169) tercantum pengertian bahwa budaya adalah pikiran, akal budi, yang di dalamnya juga termasuk adat istiadat. Dari pengertian ini dapat kita simpulkan bahwa budaya adalah hasil pemikiran manusia yang dilandasi cipta, rasa, dan karsa.
Kebudayaan menurut Clifford Geertz sebagaimana disebutkan oleh Fedyani Syaifuddin dalam bukunya Antropologi Kontemporer yaitu sistem simbol yang terdiri dari simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama, yang dapat diindentifikasi, dan bersifat publik. Senada dengan pendapat di atas Claud Levi-Strauss memandang kebudayaan sebagai sistem struktur dari simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama, yang dapat diindentifikasi, dan bersifat publik.
Definisi-definisi di atas dan pendapat para ahli lainnya dapat dikelompokkan menjadi 6 golongan menurut Abdul Chaer yaitu:
1.      Definisi deskriptif yakni definisi yang menerangkan pada unsur-unsur kebudayaan.
2.      Definisi historis yakni definisi yang menekankan bahwa kebudayaan itu diwarisi secara kemasyarakatan.
3.      Definisi normatif yakni definisi yang menekankan hakikat kebudayaan sebagai aturan hidup dan tingkah laku.
4.      Definisi psikologis yakni definisi yang menekankan pada kegunaan kebudayaan dalam menyesuaikan diri kepada lingkungan, pemecahan persoalan dan belajar hidup.
5.      Definisi sturktural definisi yang menekankan sifat kebudayaan sebagai suatu sistem yang berpola teratur.
6.      Definisi genetik yang menekankan pada terjadinya kebudayaan sebagai hasil karya manusia (diunduh dari http://anaksastra.blogspot.com pada 27 Juni 2012).

Teori Mengenai Bahasa Mempengaruhi Pandangan Manusia dan Penyangkalannya
Beberapa ahli percaya bahwa bahasa sedikit berbeda dari pikiran, namun bahasa itu sendiri akan mempengaruhi pandangan atau ideologi seseorang. Misalnya saja von Humboldt yang percaya bahwa bahasa mewujudkan semangat dan karakter nasional suatu bangsa. Pendapat terbaru yang serupa juga dinyatakan Whorf , Edward Sapir (1929), dan Alfred Korzybski (1933) (dalam Steinberg dkk 2001: 261).
Jika teori ini benar tentunya akan ditemukan perbedaan dan persamaan penting seperti, filsafat, agama, politik, atau struktur sosial terkait perbedaan dan persamaan bahasa. Namun, ternyata terdapat beberapa penyangkalan terhadap teori tersebut (dalam Steinberg dkk 2001: 262) yaitu:
1.      Bahasa yang sama namun ideologi berbeda
Di Indonesia kita dapat menemukan penutur bahasa Jawa yang sama namun ternyata memiliki filosofi hidup dan kepercayaan yang berbeda-beda. Perhatikan misalnya sebuah keluarga yang berbahasa Inggris namun ibunya seorang atheis, ayah seorang kristen, dan putri seorang muslim. Jika teori di atas benar tentunya dengan bahasa yang sama akan terdapat persamaan ideologi atau pandangan. Contoh ini menunjukka kesalahan teori tersebut.

2.      Bahasa yang berbeda namun ideologi sama
Pertimbangkan bahwa banyak negara yang memiliki bahasa yang berbeda tapi ternyata menunjukkan kesamaan ideologi atau pandangan sosial, politik, agama, dan ilmiah. Misalnya Indonesia dengan Arab Saudi berbeda bahasa namun memiliki mayoritas agama yang sama yaitu Islam atau Rusia dengan Cina yang memiliki persamaan ideologi yaitu komunis. Jika teori di atas benar tentunya ideologi antara Indonesia dengan Arab Saudi tentu akan berbeda, begitu pula dengan Rusia dan Cina.

3.      Bahasa yang sama namun terjadi perubahan pandangan dari waktu ke waktu
Kita dapat mengamati bahwa masyarakat dapat mengubah struktur sosial dan ideologinya meskipun bahasanya mengalami perubahan yang tidak signifikan. Sebagai contoh, selama 100 tahun, Cina telah berubah dari feodalisme di bawah Dinasti Qin, kemudian berganti menjadi kapitalisme di bawah kekuasaan Hiang Kai Sek, lalu berubah lagi menjadi komunisme di bawah kekuasaan Mao dan pemimpin-pemimpin selanjutnya. Namun bahasa Cina hanya berubah relatif sedikit selama beberapa periode dalam tata bahasa dasarnya. Perubahan serupa dapat dicatat dalam sejarah dari berbagai negara seperti Rusia. Fakta-fakta ini adalah sebuah hal yang tidak dapat dibahas dari teori di atas. Sesuai dengan teori di atas, jika tata bahasa tidak berubah maka seharusnya ideologi rakyat Cina dan Rusia tidak ikut berubah namun yang terjadi adalah sebaliknya.

4.      Suatu bahasa dapat menggambarkan banyak pandangan dunia yang berbeda
Pernyataan ini adalah salah satu bentuk penyangkalan terhadap teori di atas. Contohnya adalah penafsiran Al-Quran, meskipun semua Al-Quran di dunia memiliki bahasa yang sama yaitu bahasa Arab, namun penafsiran setiap ulama atau penafsir Al-Quran mengalami perbedaan. Bukti perbedaan itu adalah terdapatnya banyak aliran dan paham yang berbeda dalam tubuh Islam. Inilah salah satu bukti bahwa bahasa tidak mempengaruhi atau membentuk ideologi seseorang.

5.      Pandangan seorang multibahasawan
Tentunya hampir setiap orang di dunia ini adalah multibahasawan. Jika teori di atas yang menyatakan bahwa bahasa membentuk ideologi, filosof, dan budaya seseorang tentunya seorang multibahasawan akan memiliki berbagai pandangan yang berbeda dalam pemikirannya. Seorang multibahasawan akan memiliki persaingan pandangan yang benar dalam dirinya, hal ini tentunya membingungkan fungsi seseorang. Misalnya seorang konsultan menguasai dua bahasa, Inggris (berfaham kapitalis) dan Cina (berfaham komunis). Akan timbul pertanyaan, bagaimana dia menggunakan kedua ideologi tersebut? Bukti terakhir ini tidak memungkinkan seorang multibahasawan untuk berpikir secara baik jika kita masih mengacu pada teori di atas.  

Bukti-bukti di atas menunjukkan bahwa ternyata bahasa tidak memberikan pengaruh atau pun membentuk pemikiran, kepercayaan sosial, atau bahkan budaya seseorang. Justru sebaliknya bukti-bukti pada kehidupan sehari-hari menunjukkan pengaruh budaya, pemikiran, atau nalar mempengaruhi bahasa secara tidak langsung. Dalam esainya, Soenjono Dardjowidjojo mempertanyakan apakah ketidak-nalaran dalam tata budaya masyarakat Indonesia mempengaruhi wujud bahasa Indonesia yang penuh ketidak-nalaran (Dardjowidjojo 2003: 160). Pertanyaan ini lahir dari pembahasannya mengenai “nalar dalam bahasa dan budaya kita.” Meskipun ia tidak berani memberikan jawaban yang definitif, namun ia memberikan beberapa contoh terkait pernyataannya.
Saya hanya akan mengambil satu contoh dalam pembahasan kali ini. Misalnya keterkaitan antara logika dalam budaya masyarakat Indonesia dengan logika dalam bahasa Indonesia. Dalam budaya Indonesia, seorang ibu yang melihat anaknya jatuh karena tersandung kaki meja akan mengatakan, “Aduuh, nakal ya kursinya!”. Lalu dipukulnya kursi itu. Bandingkan dengan budaya seorang ibu Amerika, jika terjadi hal yang sama pada anaknya dia akan mengatakan, “Watch your steps, honey.” Perbedaan kedua reaksi ini sedikit banyak mencerminkan semacam benih perilaku yang sedang ditanamkan oleh orangtua pada si anak. Dalam mewujudkan cinta-kasihnya, ibu Indonesia tidak mau menyalahkan anaknya; yang dia salahkan adalah sesuatu yang tidak salah dan tidak memiliki kemampuan membela diri. Sebaliknya, ibu Amerika yang dihadapkan pada peristiwa yang sama melihatnya dari segi pandang yang lain; jatuhnya si anak bukanlah karena kursinya yang nakal, tetapi karena anaknya tidak hati-hati. Benih nalar yang dia tanamkan pada anaknya mengaitkan secara langsung sebab dan akibat yang sebenarnya.
Ternyata persoalan nalar (logika) ini juga terlihat dalam bahasa Indonesia. Perhatikan contoh berikut, yang diambil Dardjowidjojo dari SK Mendikbud No. 095/U/1988;
a.       Setiap usul penetapan angka kredit bagi Lektor Kepala ke atas harus:
b.      mendapat pertimbangan/persetujuan dari Senat Universitas
c.       melakukan penelitian mandiri.
kita lihat bahwa (4a) bisa bersambung dengan (4b) tetapi tidak dengan (4c). Gabungan (4a) dengan (4b) akan menghasilkan (4d) yang bisa kita terima, tetapi (4a) dengan (4b) seperti pada (4e) kita tolak.
a.       Setiap usul penetapan angka kredit bagi Lektor Kepala ke atas harus mendapat pertimbangan/persetujuan dari Senat Universitas.
b.      *Setiap usul penetapan angka kredit bagi Lektor Kepala ke atas harus melakukan penelitian mandiri (Dardjowidjojo 2003: 157).

Contoh di atas merupakan sebuah fenomena budaya nalar/logika Indonesia yang mungkin mempengaruhi nalar/logika dalam bahasa Indonesia.

Bahasa Mempengaruhi Budaya atau Sebaliknya?
Bahasa dan kebudayaan mempunyai hubungan yang koordinatif, yakni hubungan sederajat yang kedudukannya sama tinggi. Masinambouw dalam Chaer (1995:217) menyebutkan bahwa kebudayaan dan bahasa merupakan suatu sistem yang melekat pada manusia. Hubungan bahasa dengan kebudayaan memang erat sekali, bahkan sering sulit mengidentifikasi hubungan antarkeduanya karena mereka saling mempengaruhi, saling mengisi dan berjalan berdampingan. Menurut Nababan (1993:82) ada dua macam hubungan bahasa dan kebudayaan, yakni (1) bahasa adalah bagian dari kebudayaan (filogenetik), dan (2) seseorang belajar kebudayaan melalui bahasanya (ontogenetik).
Bahasa merupakan sarana pemertahanan kebudayaan. Sebuah kebudayaan akan mampu dimengerti, dipahami, dan dijunjung oleh penerima budaya jika mereka mengerti bahasa pengantar kebuadayaan tersebut. Bahkan sering timbul pendapat bahwa kebudayaan lahir karena bahasa, tanpa bahasa tidak akan pernah ada budaya.
Meski begitu ternyata bahasa suatu masyarakat ternyata sangat dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakatnya. Dalam analisis semantik, Abdul Chaer mengatakan bahwa bahasa itu bersifat unik dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya, maka analisis suatu bahasa hanya berlaku untuk bahasa itu saja, tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa lain (diunduh dari http://anaksastra.blogspot.com pada 27 Juni 2012). Contohnya dalam budaya masyarakat Inggris yang tidak mengenal nasi sebagai makanan pokok hanya ada kata rice untuk menyatakan nasi, beras, gabah, dan padi. Jadi, kata rice dalam Bahasa Inggris mengacu kepada nasi, beras, gabah, dan padi dalam Bahasa Indonesia. Variasi dalam Bahasa Indonesia itu disebabkan karena kedekatan masyarakat Indonesia dengan nasi sebagai makanan pokoknya yang merupakan bentuk budaya masyarakat Indonesia.
Contoh lain misalnya, dalam budaya Inggris pembedaan kata saudara (orang yang lahir dari rahim yang sama) berdasarkan jenis kelamin yaitu brother dan sister. Padahal budaya Indonesia membedakan berdasarkan usia yaitu yang lebih tua disebut kakak dan yang lebih muda disebut adik. Kebudayaan Inggris tidak memandang saudara berdasarkan usia namun berdasarkan jenis kelamin berlawanan dengan kebudayaan Indonesia yang lebih mementingkan segi usia. Ini dikarenakan kebudayaan santun masyarakat Indonesia lebih kental dibanding masyarakat Inggris pada umumnya.
Pendapat senada dikatakan oleh Levi-Strauss (dalam Sibarani 1992:104). Menurutnya, bahasa adalah hasil kebudayaan. Dalam hal ini berarti kebudayaan mempengaruhi bahasa seperti halnya pada contoh-contoh di atas. Bahasa merupakan refleksi seluruh kebudayaan dari sebuah masyarakat. Contohnya dapat kita lihat jika kita membandingkan bahasa Sunda dengan bahasa Jawa, yaitu sebagai berikut:

Bahasa Sunda                                                                        Bahasa Jawa
Amis: manis                                                                            Amis: amis
Gedang: papaya                                                                      Gedhang: pisang
Raos: enak                                                                               Raos: rasa
Atos: sudah                                                                             Atos: keras
Cokot: ambil                                                                           Cokot: gigit
Kata dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa meskipun bentuk dan ejaannya sama namun berbeda artinya. Hal ini disebabkan adanya perbedaan latar budaya yang mempengaruhi arti tersebut. Tata cara berbahasa seseorang sangat dipengaruhi norma-norma budaya suku bangsa atau kelompok masyarakat tertentu. Kebudayaan yang sudah mendarah daging sangat berpengaruh pada bahasa seseorang. Itulah sebabnya kita perlu memahami norma-norma kebudayaan sebelum atau selain mempelajari bahasa (Hodidjah, artikel hlm. 6).
Pandangan berbeda terungkap dari teori Sapir-Whorf. Teori ini mengungkapkan bahwa bahasa mempengaruhi budaya. Mereka mengatakan demikian karena apa yang diungkapkan pengguna bahasa mencerminkan kebiasaan si penutur. Dalam teori Sapir-Whorf, kebiasaan tersebut timbul dari bahasa sehingga ia menegaskan bahwa bahasa mempengaruhi budaya (kebiasaan). Sayangnya teori ini dianggap lemah untuk saat ini, karena fakta-fakta yang ada menunjukkan bahwa kebudayaanlah yang mempengaruhi bahasa.

Penutup
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa penulisan ini bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai kebenaran teori bahwa bahasa mempengaruhi pandangan masyarakat penuturnya dan mendeskripsikan pengaruh bahasa terhadap budaya ataukah sebaliknya. Dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa tidak membentuk atau mempengaruhi pandangan masyarakat penuturnya. Kesimpulan ini dibuktikan dengan lima hal yaitu (1) bahasa yang sama namun ideologi berbeda, (2) bahasa yang berbeda namun ideologi sama, (3) bahasa yang sama namun terjadi perubahan pandangan dari waktu ke waktu, (4) suatu bahasa dapat menggambarkan banyak pandangan dunia yang berbeda, dan (5) pandangan seorang multibahasawan. Bahasa dan budaya memiliki kedudukan yang sama tinggi, meskipun begitu banyak fakta dalam kehidupan yang menunjukkan bahwa pengaruh budaya terhadap bahasa lebih dominan ketimbang sebaliknya.


Daftar Acuan
Brown, Gillian & George Yule (dindonesiakan oleh Soetikno).1996. Analisis Wacana. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Chaer, Abdul. 1995. Sosiolinguistik Sebuah Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
David D. Steinberg, Hiroshi Nagata, & David P. Aline. 2001. Psycholinguistics Language, Mind, and World. London: Longman.
E. Soekamto, Katharina (peny.). 2003. Rampai Bahasa, Pendidikan, dan Budaya (Kumpulan Esai Soenjono Dardjowidjojo). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Hodidjah. Bahasa Mempengaruhi Budaya atau Sebaliknya?. Artikel (diunduh dari http://google.com, pada 27 Juni 2012).
Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: Grafindo.
Nababan, PWJ. 1993. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sibarani, Robert. 1992. Hakikat Bahasa Bandung:Citra Adtya Bakti.
Tim Pusat Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Pusat Bahasa RI.

- Copyright © Halaman Tian - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -