Indonesia
Sample text
Total Tayangan Halaman
Diberdayakan oleh Blogger.
Advertising
Translate
Social Icons
Labels
Followers
About Me
- Septian Cahyo Putro
- Depok, Jawa Barat, Indonesia
- Pendidik di Bizsmart School Depok
Labels
Blog Archive
Featured Posts
Esai Belenggu
Tono sebagai Tokoh Male Feminis dan Kontra Male Feminis dalam Novel Belenggu Karya Amijn Pane
Oleh:
Septian Cahyo P.
Teeuw berpendapat, Belenggu jauh lebih tinggi nilainya daripada kebanyakan penerbitan
Balai Pustaka, tetapi justru Balai Pustaka merasa perlu menolaknya dengan
alasan yang lemah. Balai Pustaka menolak novel ini untuk diterbitkan karena
bicara masalah perselingkuhan. Tema perselingkuhan kala itu masih menjadi tema
yang tabu bagi masyarakat Indonesia dan dianggap membuka aib bangsa Indonesia
sendiri.
Novel ini memiliki nilai kebaruan yang dapat dilihat
dari segi tema, gaya penceritaan pengarang, maupun bentuk kalimatnya. Dari segi
tema novel ini tidak lagi mengangkat masalah Timur dan Barat, perkawinan adat,
ataupun pertentangan kaum tua dan muda. Armijn mengisahkan konflik batin yang
dialami tokoh-tokohnya. Dilihat dari gaya penceritaannya novel ini berbeda dari
novel-novel terbitan Balai Pustaka sebelumnya. Armijn Pane adalah yang pertama
menampilkan arus gaya kesadaran. Sehingga dibutuhkan kesadaran dan perhatian
yang tinggi saat membaca novel ini. Armijn juga menampilkan kebaruan dalam hal
penulisan kalimat pada novelnya ini. Kalimat-kalimat dalam Belenggu pendek dan lugas.
Intisari dari novel ini adalah konflik batin antara
tokoh dokter Sukartono, Tini, dan Rohayah. Tono (suami Tini) yang sibuk sebagai
dokter akhirnya melalaikan tugasnya sebagai seorang suami. Sedangkan Tini yang
menyukai kegiatan-kegiatan sosial sibuk pula dengan kegiatannya sendiri. Ia
melupakan kedudukannya sebagai seorang istri dokter. Rumah tangga mereka
terbelah oleh egoisme masing-masing. Tono yang merasa kurang mendapat perhatian
dari istrinya bertemu Rohayah salah seorang pasiennya, dan akhirnya mereka
menjalin hubungan perselingkuhan. Rohayah begitu lembut dan penyayang membuat
Tono kerasan dengannya. Singkat
cerita, Tono dan Tini akhirnya bercerai. Tono yang berharap dapat menikah
dengan Rohayah tidak dapat mewujudkan keinginannya, karena Rohayah lebih
memilih meninggalkan Tono.
Di akhir cerita setiap tokoh menempuh jalan hidupnya
masing-masing. Tono meneruskan sekolah kedokterannya, Tini pergi ke Semarang
menjadi seorang aktivis sosial, sedangkan Rohayah pergi ke Nieuw Caledonie, meneruskan profesinya sebagai pekerja seks
komersial.
Watak tokoh Tono digambarkan dalam novel ini yaitu
dermawan, menyayangi anak-anak, pekerja keras bahkan sampai melupakan istrinya,
penyayang, romantis. Tono adalah seorang dokter yang rindu akan kasih sayang,
disebabkan istrinya Tini yang sangat kurang perhatian pada dirinya begitu pula
Tono yang jarang memperdulikan istrinya. Akibat dari kerinduan akan kasih
sayang itu, akhirnya Tono berselingkuh dengan Rohayah, bahkan berniat
menceraikan istrinya. Rohayah, seorang pekerja seks komersial, memiliki sifat
yang amat penyayang dan lembut, membuat Tono begitu menghargainya.
Sikap Tono dalam memperlakukan dua orang wanita ini
dapat dikatakan dua sifat yang bertolak belakang. Pertama, ia bersikap kontra male feminis terhadap Tini dan
kedua, ia bersikap male feminis
kepada Rohayah. Kedua sikap tersebut tergambar dengan jelas melalui watak Tono,
meski tidak terjadi secara mutlak. Maksudnya, tidak sepenuhnya Tono bersikap kontra male feminis terhadap Tini,
terkadang ia juga menunjukkan sikap male
feminis-nya kepada wanita itu, begitu pula sikapnya terhadap Rohayah.
Istilah male feminis bagi kalangan feminis di
Indonesia masih sangat baru dan belum terdengar akrab di telinga. Persoalannya
jelas, feminis di Indonesia dapat dikatakan baru berjalan kurang lebih 15 tahun
ini, tepatnya dimulai pada pertengahan tahun 1980-an. Itupun baru berupa
pergerakan feminisme dan belum sampai pada taraf studi yang intensif yang
berupa pengembangan wacana yang kritis dan analisis sifatnya, apalagi masalah feminis laki-laki.[1]
Kaum laki-laki yang ikut berjuang melawan penindasan
terhadap perempuan lebih tepat dikatakan sebagai kelompok pro-feminis (male
feminis). Sebuah bentuk dekonstruksi, ketika istilah male feminis,
berarti akan ada paradoksal yang menyatakan kebalikannya dalam hal ini bisa
disebut kontra male feminis. Hal ini merupakan bentuk dari oposisi
biner. Kontra male feminis merupakan kebalikan dari male feminis.
Jika male feminis mempunyai sifat menghargai terhadap perempuan, maka kontra
male feminis adalah mempunyai sifat menentang perempuan.
Tono menunjukkan sikap kontra male feminis-nya
terhadap Tini. Hal ini dapat dibuktikan dari sikap Tono yang berselingkuh
dengan Rohayah. Apapun alasannya perselingkuhan adalah pengkhianatan.
Perselingkuhan itu menunjukkan sikap Tono yang tidak menghargai perempuan.
Bukti lain yang menunjukkan sikap kontra
male feminis Tono yaitu ketika ia kembali tidak menghargai Tini sebagai
istrinya. Ketika Tini sedang bermain piano di suatu pesta, Tono malah pergi
meninggalkannya untuk menemui Rohayah. Ketika itu, Tono hendak langsung pergi
namun diingatkan oleh temannya yang bernama Mardani untuk berpamitan dengan
Tini terlebih dahulu. Bila tidak diingatkan ia pasti akan langsung pergi. Tono
berpamitan kepada istrinya hanya dengan mengatakan, “Aku pergi...” (Belenggu,
hlm. 88).
Meski begitu, Tono juga menunjukkan sikap male feminis-nya terhadap Tini. Hal ini
dapat dilihat dari sikap Tono yang memberikan kebebasan bagi Tini untuk bergiat
dalam kegiatan sosial. Ia menghargai sikap sosialis Tini.
Selanjutnya mengenai sikap male feminis Tono terhadap Rohayah. Sikap tersebut dapat dilihat
melalui kutipan berikut:
“Dia
(Tono) mengangguk lalu pergi. Tetapi dia merasa kasihan juga meninggalkan Yah
seorang diri saja” (Belenggu,
hlm. 88).
Dalam hatinya Tono begitu menyayangi Rohayah, kutipan
di atas hanyalah salah satu bukti nyata kasih sayang Tono kepadanya. Ia tidak
mampu terlalu lama meninggalkan Rohayah. Bahkan ketika Tini pergi ke luar kota
ia sering menginap di rumah Yah. Selain sikap kasih sayangnya kepada Tini, ia
juga menghormati Tini karena kecerdasannya. Tini mengajarkan banyak hal kepada
Tono. Dengan seorang bekas pelacur, ternyata dokter Tono mampu ditandingi
perkataan dan pemikirannya. Kutipan berikut menunjukkan bahwa Rohayah adalah
perempuan yang cerdas, karena rajin membaca buku.
“Tuanku
banyak bukunya, dia suka membaca. Aku coba membaca, karena kulihat dia tenang
kalau membaca. Mulanya tiada lut, kemudian lambat laun hati jiwaku terpendam
oleh bacaan.”(Belenggu,
hlm. 50).
Sikap kasih
sayang dan penghormatan kepada Yah ini yang menjadikan Tono seorang tokoh male feminis. Meski begitu, ternyata
Tono juga menunjukkan sikap kontra male
feminis-nya terhadap Rohayah. Sikap ini ditunjukkan melalui kutipan
berikut:
“Tono
menghampirinya. Jarinya menunjuk muka Yah. Katanya dengan keras: “Sipatmu tidak
dapat berubah, kerbau suka juga kepada kubangan. Dalam lumpur tempatmu,
kembalilah engkau kesana.”
Dapat ditarik kesimpulan bahwa Tono memiliki dua
sifat feminis yang saling bertentangan. Mungkin ini adalah salah satu alasan
Jassin yang berpendapat “orang-orang yang
dilukiskan dalam roman ini hampir-hampir menyerupai karikatur, karena terlampau
dilebih-lebihkan; boleh jadi dengan sengaja, boleh jadi juga tidak...”
Penggambaran watak tokoh Tono cenderung tidak tegas dan tampak dibuat-buat.
[1] Veri
Dani Wardani, Male Feminis dan
Kontra Male Feminis dalam Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya
Ahmad Tohari, Skripsi, (Universitas Negeri Semarang, 2005) Hlm. 21
“Yang Menang dan Yang Kalah” dalam Datangnya dan Perginya Karya A.A. Navis
Nama lengkapnya Ali Akbar Navis, lahir di Padang
Panjang, Sumatra Barat, pada tanggal 17 November 1924. Navis memulai karir
penulisannya ketika berumur tiga puluhan. Karyanya banyak dimuat di beberapa
majalah, seperti Kisah, Mimbar Indonesia,
Budaya, dan Roman. Tema-tema yang
muncul dalam karya-karya A.A. Navis biasanya bernafaskan kedaerahan dan
keagamaan sekitar masyarakat Minangkabau.
Navis terkenal sebagai sastrawan ironi bahkan
sarkasme, karena karya-karyanya yang menyindir kehidupan sosial-agama masyarakat
yang terlalu kaku atau terlalu primitif.
Salah satu karyanya yang akan saya angkat dalam pembahasan kali ini
adalah cerpennya yang berjudul Datangnya
dan Perginya. Cerpen tersebut memiliki klimaks yang menarik yaitu konflik
batin tokoh-tokohnya. Konflik tersebut diakibatkan belenggu kebenaran,
kebahagiaan, dan keimanan. Konflik batin itulah yang menjadi nafas cerita ini.
Garis besar dari cerpen Datangnya dan Perginya yaitu diawali dengan kemunculan tokoh ayah
Masri yang menerima surat dari anak lelakinya yang dahulu pernah diusirnya.
Masri diusir oleh ayahnya karena memergoki sang ayah sedang berkencan dengan
pelacur. Namun akhirnya sang ayah sadar akan perbuatannya. Ia sadar telah gagal
menjadi seorang ayah dan menjadi marbot. Masri telah berhasil menyadarkan sang
ayah dengan perkataan yang menyentuh hati sang Ayah sebelum kepergiannya.
Singkat cerita Masri telah berkeluarga dan menikah
dengan seseorang yang bernama Arni. Ia kemudian mengajak ayahnya untuk tinggal
bersamanya. Sang ayah merasa terharu sekali dengan ajakan anaknya. Anak yang
telah diusir dan ditamparnya, tidak menyimpan dendam sama sekali kepada
ayahnya. Akhirnya ayah Masri pergi ke rumah anaknya, disana ia bertemu Iyah,
seseorang yang dikenalnya sebagai mantan istrinya. Iyah memberi tahu ayah Masri
bahwa Arni adalah saudara kandung Masri, tapi Iyah tidak tega menghancurkan
kebahagiaan anaknya. Cerita ini diakhiri dengan perdebatan antara Iyah dengan mantan
suaminya (ayah Masri).
Dalam cerpennya kali ini A.A. Navis kembali
mempertentangkan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Sama seperti
cerpen Robohnya Surau Kami yang
fenomenal itu. Pola yang digunakan dalam cerpen ini pun hampir sama dengan cerpen
Robohnya Surau Kami. Ada seseorang
yang menyadarkan orang lain. Dalam cerpen Datangnya
dan Perginya, Navis menampilkan tokoh Masri yang menyadarkan sifat buruk
ayahnya yang suka main perempuan, layaknya Ajo Sidi yang menyadarkan Kakek
bahwa keimanan kepada Tuhan harus diimbangi dengan kerja keras.
Penyadaran yang dilakukan oleh Masri ini dilakukan
dengan perkataannya yang sederhana, terlihat dari kutipan berikut:
“Kalau
aku kurang ajar, bukan salahku. Perbuatan Ayah yang menyebabkan aku begini.
Ayah yang menyebabkan aku lahir tanpa kemauanku! Setelah aku lahir, Ayah lagi
yang merusaknya!”
Dalam kutipan diatas terlihat jelas bagaimana gaya
sarkasme A.A. Navis. Ia begitu tegas memperingatkan kepada para orang tua agar
menjadi tauladan yang baik bagi anak-anaknya.
Konflik antara Masri dengan ayahnya ini adalah
konflik pertama yang terjadi antar tokoh. Konflik tersebut dimenangkan oleh
Masri, karena berhasil membuat ayahnya sadar dan bertobat. Konflik manusia
dalam cerpen ini dibangun melalui dialog tokoh-tokohnya. Konflik tersebut
berupa kenyataan atau kehidupan sehari-hari. Ini adalah ciri khas dari A.A.
Navis dalam menyajikan ceritanya. Ia sering mempertentangkan kebenaran yang
tidak pasti.
Ciri tersebut semakin terasa ketika pembaca sampai
pada klimaks cerita. Pada klimaksnya ayah Masri yang hendak bertemu dengan
Masri disambut dengan kenyataan pahit dari mantan istrinya. Ia mengatakan bahwa
Arni yang saat ini menjadi istri Masri ternyata saudara kandung Masri.
Mendengar hal itu, ayah Masri sangat terkejut dan hendak memberitahukan ihwal
sebenarnya kepada Masri dan istrinya. Ayah masri berpendapat bahwa hal tersebut
adalah dosa. Ayah Masri yang telah bertobat berkata, “Aku tak sanggup menghadapi kutukan Tuhan”. Namun, Iyah menghalanginya, ia berkata:
“Biarkan
mereka berbahagia dalam ketidaktahuannya”
Konflik tersebut akhirnya dimenangkan oleh Iyah.
Ayah Masri yang pada awalnya begitu kokoh pendiriannya akhirnya memilih untuk
pergi (“...laki-laki itu melangkah dengan
tenang ke muka, tapi kepalanya tepekur sebagai orang kalah”). Konflik
antara Iyah dengan ayah Masri bermakna konflik antara keduniaan dan
keakhiratan, antara kebahagiaan dunia dan dosa. Iyah sebagai tokoh yang
berusaha keras menjaga kebahagiaan anak-anaknya melawan keimanan ayah Masri yang
begitu takut akan dosa. Kepergian ayah Masri menandakan kemenangan bagi
keduniaan/kebahagiaan dunia (sosial).
Lagi-lagi A.A. Navis memenangkan aspek duniawi
dibanding akhirat sama seperti pada cerpen Robohnya
Surau Kami. Perbedaannya adalah dalam cerpen Datangnya dan Perginya pihak yang kalah (ayah Masri) memilih untuk
tetap menjalani kehidupan agamisnya dan menjauhi dosa. Sebuah penyesalan yang
dirasakan tokoh ayah Masri adalah dia tahu kebenarannya namun harus menutupinya
dan ini adalah perbuatan dosa. Lain halnya pada cerpen Robohnya Surau Kami, pihak yang kalah (Kakek) tanpa alasan yang
jelas malahan bunuh diri bukannya bertobat dan memperbaiki kehidupannya.
Peristiwa bunuh diri Kakek ini adalah salah satu bentuk sarkasme yang ditujukan
kepada orang-orang yang imannya lemah.
Sebuah pilihan yang sulit harus ditanggung oleh ayah
Masri, di satu sisi ia harus mempertahankan keimanannya, tapi di sisi lain ia
tidak ingin merusak kebahagiaan anak-anaknya. Akhirnya ia memilih untuk pergi.
Mungkin inilah makna dari judul cerpen tersebut, datangnya sang ayah untuk
melihat kebahagiaan anaknya namun kenyataan pahit telah membuatnya pergi
meninggalkannya.
Hubungan Bahasa dan Budaya
Hubungan Bahasa dan Budaya
Septian
Cahyo P.
(Mahasiswa
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta)
Abstract
Language have as
high as position with the culture in society. The two of them like two side
coin that never be separate. The relation the two of them is coordinately.
Language is instrument to defend culture and culture influence language that
used by the speaker. Some of the philosopher argued that language obtainable
culture, social structure, and ideology the speaker. Therefore, the aim of this
writing is to discribe do the language shape human world view? And do the
culture influence language or the other way? Finally, obtainabled conclusion
that language did not shape human world view and the culture influence language
dominantly.
Keywords:
bahasa,
budaya, pengaruh, pandangan
Pendahuluan
Bahasa dan budaya adalah dua bentuk hasil pemikiran
manusia. Banyak ahli yang mengemukakan teorinya mengenai kaitan antara bahasa
dan budaya, salah satunya Willem von Humboldt seorang filosof Jerman.
Menurutnya “language by its very nature
represents the spirit and national character of a people (bahasa adalah
repesentasi/perwujudan semangat alami dan karakter nasional masyarakat)”(Steinberg
dkk, 2001: 244). Humboldt yakin setiap bahasa di dunia pasti merupakan
perwujudan budaya dari masyarakat penuturnya. Jadi, pandangan yang dimiliki
oleh suatu masyarakat bahasa tertentu akan tercermin atau terwujud dalam
bahasanya. Dan ternyata pendapat Humboldt juga didukung oleh para linguis
ternama seperti Edward Sapir (1929) dan Alfred Korzybski (1933).
Bahasa merupakan produk budaya. Bahasa adalah wadah
dan refleksi kebudayaan masyarakat pemiliknya. Koentjoroningrat dalam Chaer
(1995:217) menyatakan kebudayaan itu hanya dimiliki manusia dan tumbuh bersama
berkembangnya masyarakat. Berbagai pendapat para ahli mengenai hubungan antara
bahasa dan kebudayaan membuat tema ini menarik untuk dikaji lebih lanjut.
Sehingga pada akhirnya dapat melahirkan teori-teori baru mengenai hubungan
keduanya.
Penulisan artikel ini bertujuan untuk memberikan penjelasan
apakah benar bahasa membentuk pandangan masyarakat penuturnya? Apakah bahasa
mempengaruhi budaya ataukah sebaliknya? Saya akan mulai menggambarkan persoalan
di atas dengan menjelaskan pengertian bahasa dan budaya, kemudian memberikan teori-teori
mengenai bahasa yang mempengaruhi pandangan manusia, dan terakhir menjabarkan
pengaruh bahasa terhadap budaya atau sebaliknya.
Pengertian
Bahasa
Kridalaksana
dalam Chaer (2003:32)memberikan pengertian bahwa bahasa adalah sistem lambang
bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh kelompok sosial untuk bekerjasama,
berkomunikasi dan mengidentifikasi diri. Sebagai suatu sistem, bahasa sekaligus
bersifat sistematis. Artinya bahasa tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun
secara acak, dengan kata lain, bahasa itu bukan merupakan suatu sistem yang tunggal,
tetapi dari subsistem, seperti fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik.
Sedangkan arbitrer (“mana suka”) di sini artinya tidak ada hubungan wajib
antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian
yang dimaksud lambang tersebut.
Sedangkan
dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) edisi III (2005:88) disebutkan bahwa:
1.
bahasa
merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota satu
masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri;
- bahasa merupakan percapakan (perkataan) yang baik.
Pendapat
lainnya dikemukakan oleh Brown dan Yule (1983: 1) yang menyatakan bahwa bahasa
bukan hanya alat komunikasi. Lebih dari itu, kedua pakar linguistik ini
menyebutkan dalam penggunaannya (language in use) bahasa merupakan bagian dari pesan dalam komunikasi.
Dalam penggunaan bahasa menurut Brown dan Yule, hal ini disebut dengan istilah
‘transaksional’ dan ‘interpersonal’. Artinya, ada kebiasaan dan kebudayaan
dalam menggunakan bahasa sebagai media/alat berkomunikasi.
Tidak jauh
berbeda dengan pendapat di atas, Noam Chomsky, Gorys Keraf, dan Sturtevent
mengungkapkan pengertian senada mengenai bahasa, yaitu sebagai berikut:
1.
Menurut
Sturtevent, bahasa adalah sistem lambang sewenang-wenang, berupa bunyi yang
digunakan oleh anggota-anggota suatu kelompok sosial untuk bekerjasama dan
saling berhubungan.
2.
Menurut
Chomsky, language is a set of sentences,
each finite length and contructed out of a finite set of elements.
3.
Menurut
Keraf, bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat, berupa lambang
bunyi suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. (diunduh dari http://anaksastra.blogspot.com pada 27 Juni 2012)
Pengertian
Budaya
Hakikat
kebudayaan sangat kompleks sehingga para ahli selalu memberikan pengertian,
pemahaman dan batasan yang bervariasi. Wilson dalam Sibarani (1992:99),
mengatakan bahwa kebudayaan adalah pengetahuan yang ditransmisi dan disebarkan
secara sosial, baik bersifat eksistensi, normatif maupun simbolis yang
tercermin dalam tingkah laku dan benda‐benda hasil karya
manusia.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
Budaya (2005:169) tercantum pengertian bahwa budaya adalah pikiran, akal budi,
yang di dalamnya juga termasuk adat istiadat. Dari pengertian ini dapat kita
simpulkan bahwa budaya adalah hasil pemikiran manusia yang dilandasi cipta,
rasa, dan karsa.
Kebudayaan menurut Clifford Geertz
sebagaimana disebutkan oleh Fedyani Syaifuddin dalam bukunya Antropologi
Kontemporer yaitu sistem simbol yang terdiri dari simbol-simbol dan makna-makna
yang dimiliki bersama, yang dapat diindentifikasi, dan bersifat publik. Senada
dengan pendapat di atas Claud Levi-Strauss memandang kebudayaan sebagai sistem
struktur dari simbol-simbol dan makna-makna yang dimiliki bersama, yang dapat
diindentifikasi, dan bersifat publik.
Definisi-definisi di atas dan
pendapat para ahli lainnya dapat dikelompokkan menjadi 6 golongan menurut Abdul
Chaer yaitu:
1. Definisi
deskriptif yakni
definisi yang menerangkan pada unsur-unsur kebudayaan.
2. Definisi
historis yakni
definisi yang menekankan bahwa kebudayaan itu diwarisi secara kemasyarakatan.
3. Definisi
normatif yakni
definisi yang menekankan hakikat kebudayaan sebagai aturan hidup dan tingkah
laku.
4. Definisi
psikologis yakni
definisi yang menekankan pada kegunaan kebudayaan dalam menyesuaikan diri
kepada lingkungan, pemecahan persoalan dan belajar hidup.
5. Definisi
sturktural definisi
yang menekankan sifat kebudayaan sebagai suatu sistem yang berpola teratur.
6. Definisi
genetik yang
menekankan pada terjadinya kebudayaan sebagai hasil karya manusia (diunduh dari
http://anaksastra.blogspot.com pada 27 Juni 2012).
Teori
Mengenai Bahasa Mempengaruhi Pandangan Manusia dan Penyangkalannya
Beberapa ahli percaya bahwa bahasa sedikit berbeda
dari pikiran, namun bahasa itu sendiri akan mempengaruhi pandangan atau
ideologi seseorang. Misalnya saja von Humboldt yang percaya bahwa bahasa
mewujudkan semangat dan karakter nasional suatu bangsa. Pendapat terbaru yang
serupa juga dinyatakan Whorf , Edward Sapir (1929), dan Alfred Korzybski (1933)
(dalam Steinberg dkk 2001: 261).
Jika teori ini benar tentunya akan ditemukan
perbedaan dan persamaan penting seperti, filsafat, agama, politik, atau
struktur sosial terkait perbedaan dan persamaan bahasa. Namun, ternyata
terdapat beberapa penyangkalan terhadap teori tersebut (dalam Steinberg dkk
2001: 262) yaitu:
1. Bahasa
yang sama namun ideologi berbeda
Di
Indonesia kita dapat menemukan penutur bahasa Jawa yang sama namun ternyata
memiliki filosofi hidup dan kepercayaan yang berbeda-beda. Perhatikan misalnya
sebuah keluarga yang berbahasa Inggris namun ibunya seorang atheis, ayah
seorang kristen, dan putri seorang muslim. Jika teori di atas benar tentunya
dengan bahasa yang sama akan terdapat persamaan ideologi atau pandangan. Contoh
ini menunjukka kesalahan teori tersebut.
2. Bahasa
yang berbeda namun ideologi sama
Pertimbangkan
bahwa banyak negara yang memiliki bahasa yang berbeda tapi ternyata menunjukkan
kesamaan ideologi atau pandangan sosial, politik, agama, dan ilmiah. Misalnya
Indonesia dengan Arab Saudi berbeda bahasa namun memiliki mayoritas agama yang
sama yaitu Islam atau Rusia dengan Cina yang memiliki persamaan ideologi yaitu
komunis. Jika teori di atas benar tentunya ideologi antara Indonesia dengan
Arab Saudi tentu akan berbeda, begitu pula dengan Rusia dan Cina.
3. Bahasa
yang sama namun terjadi perubahan pandangan dari waktu ke waktu
Kita
dapat mengamati bahwa masyarakat dapat mengubah struktur sosial dan ideologinya
meskipun bahasanya mengalami perubahan yang tidak signifikan. Sebagai contoh,
selama 100 tahun, Cina telah berubah dari feodalisme di bawah Dinasti Qin,
kemudian berganti menjadi kapitalisme di bawah kekuasaan Hiang Kai Sek, lalu
berubah lagi menjadi komunisme di bawah kekuasaan Mao dan pemimpin-pemimpin
selanjutnya. Namun bahasa Cina hanya berubah relatif sedikit selama beberapa
periode dalam tata bahasa dasarnya. Perubahan serupa dapat dicatat dalam
sejarah dari berbagai negara seperti Rusia. Fakta-fakta ini adalah sebuah hal
yang tidak dapat dibahas dari teori di atas. Sesuai dengan teori di atas, jika
tata bahasa tidak berubah maka seharusnya ideologi rakyat Cina dan Rusia tidak
ikut berubah namun yang terjadi adalah sebaliknya.
4. Suatu
bahasa dapat menggambarkan banyak pandangan dunia yang berbeda
Pernyataan
ini adalah salah satu bentuk penyangkalan terhadap teori di atas. Contohnya
adalah penafsiran Al-Quran, meskipun semua Al-Quran di dunia memiliki bahasa
yang sama yaitu bahasa Arab, namun penafsiran setiap ulama atau penafsir
Al-Quran mengalami perbedaan. Bukti perbedaan itu adalah terdapatnya banyak aliran
dan paham yang berbeda dalam tubuh Islam. Inilah salah satu bukti bahwa bahasa
tidak mempengaruhi atau membentuk ideologi seseorang.
5. Pandangan
seorang multibahasawan
Tentunya hampir
setiap orang di dunia ini adalah multibahasawan. Jika teori di atas yang
menyatakan bahwa bahasa membentuk ideologi, filosof, dan budaya seseorang
tentunya seorang multibahasawan akan memiliki berbagai pandangan yang berbeda
dalam pemikirannya. Seorang multibahasawan akan memiliki persaingan pandangan
yang benar dalam dirinya, hal ini tentunya membingungkan fungsi seseorang.
Misalnya seorang konsultan menguasai dua bahasa, Inggris (berfaham kapitalis)
dan Cina (berfaham komunis). Akan timbul pertanyaan, bagaimana dia menggunakan
kedua ideologi tersebut? Bukti terakhir ini tidak memungkinkan seorang
multibahasawan untuk berpikir secara baik jika kita masih mengacu pada teori di
atas.
Bukti-bukti di atas menunjukkan bahwa ternyata
bahasa tidak memberikan pengaruh atau pun membentuk pemikiran, kepercayaan
sosial, atau bahkan budaya seseorang. Justru sebaliknya bukti-bukti pada
kehidupan sehari-hari menunjukkan pengaruh budaya, pemikiran, atau nalar
mempengaruhi bahasa secara tidak langsung. Dalam esainya, Soenjono
Dardjowidjojo mempertanyakan apakah ketidak-nalaran dalam tata budaya
masyarakat Indonesia mempengaruhi wujud bahasa Indonesia yang penuh
ketidak-nalaran (Dardjowidjojo 2003: 160). Pertanyaan ini lahir dari
pembahasannya mengenai “nalar dalam bahasa dan budaya kita.” Meskipun ia tidak
berani memberikan jawaban yang definitif, namun ia memberikan beberapa contoh
terkait pernyataannya.
Saya hanya akan mengambil satu contoh dalam
pembahasan kali ini. Misalnya keterkaitan antara logika dalam budaya masyarakat
Indonesia dengan logika dalam bahasa Indonesia. Dalam budaya Indonesia, seorang
ibu yang melihat anaknya jatuh karena tersandung kaki meja akan mengatakan,
“Aduuh, nakal ya kursinya!”. Lalu dipukulnya kursi itu. Bandingkan dengan
budaya seorang ibu Amerika, jika terjadi hal yang sama pada anaknya dia akan
mengatakan, “Watch your steps, honey.” Perbedaan kedua reaksi ini sedikit
banyak mencerminkan semacam benih perilaku yang sedang ditanamkan oleh orangtua
pada si anak. Dalam mewujudkan cinta-kasihnya, ibu Indonesia tidak mau
menyalahkan anaknya; yang dia salahkan adalah sesuatu yang tidak salah dan
tidak memiliki kemampuan membela diri. Sebaliknya, ibu Amerika yang dihadapkan
pada peristiwa yang sama melihatnya dari segi pandang yang lain; jatuhnya si
anak bukanlah karena kursinya yang nakal, tetapi karena anaknya tidak
hati-hati. Benih nalar yang dia tanamkan pada anaknya mengaitkan secara
langsung sebab dan akibat yang sebenarnya.
Ternyata persoalan nalar (logika) ini juga terlihat
dalam bahasa Indonesia. Perhatikan contoh berikut, yang diambil Dardjowidjojo
dari SK Mendikbud No. 095/U/1988;
a. Setiap
usul penetapan angka kredit bagi
Lektor Kepala ke atas harus:
b. mendapat
pertimbangan/persetujuan dari Senat Universitas
c. melakukan
penelitian mandiri.
kita lihat bahwa
(4a) bisa bersambung dengan (4b) tetapi tidak dengan (4c). Gabungan (4a) dengan
(4b) akan menghasilkan (4d) yang bisa kita terima, tetapi (4a) dengan (4b)
seperti pada (4e) kita tolak.
a. Setiap
usul penetapan angka kredit bagi Lektor Kepala ke atas harus mendapat
pertimbangan/persetujuan dari Senat Universitas.
b. *Setiap
usul penetapan angka kredit bagi Lektor Kepala ke atas harus melakukan
penelitian mandiri (Dardjowidjojo 2003: 157).
Contoh di atas
merupakan sebuah fenomena budaya nalar/logika Indonesia yang mungkin
mempengaruhi nalar/logika dalam bahasa Indonesia.
Bahasa
Mempengaruhi Budaya atau Sebaliknya?
Bahasa
dan kebudayaan mempunyai hubungan yang koordinatif, yakni hubungan sederajat
yang kedudukannya sama tinggi. Masinambouw dalam Chaer (1995:217) menyebutkan
bahwa kebudayaan dan bahasa merupakan suatu sistem yang melekat pada manusia.
Hubungan bahasa dengan kebudayaan memang erat sekali, bahkan sering sulit
mengidentifikasi hubungan antarkeduanya karena mereka saling mempengaruhi,
saling mengisi dan berjalan berdampingan. Menurut Nababan (1993:82) ada dua macam
hubungan bahasa dan kebudayaan, yakni (1) bahasa adalah bagian dari kebudayaan
(filogenetik), dan (2) seseorang belajar kebudayaan melalui bahasanya (ontogenetik).
Bahasa
merupakan sarana pemertahanan kebudayaan. Sebuah kebudayaan akan mampu
dimengerti, dipahami, dan dijunjung oleh penerima budaya jika mereka mengerti
bahasa pengantar kebuadayaan tersebut. Bahkan sering timbul pendapat bahwa
kebudayaan lahir karena bahasa, tanpa bahasa tidak akan pernah ada budaya.
Meski
begitu ternyata bahasa suatu masyarakat ternyata sangat dipengaruhi oleh
kebudayaan masyarakatnya. Dalam
analisis semantik, Abdul Chaer mengatakan bahwa bahasa itu bersifat unik dan
mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya, maka
analisis suatu bahasa hanya berlaku untuk bahasa itu saja, tidak dapat
digunakan untuk menganalisis bahasa lain (diunduh dari http://anaksastra.blogspot.com pada 27 Juni 2012). Contohnya dalam
budaya masyarakat Inggris yang tidak mengenal nasi sebagai makanan pokok hanya
ada kata rice untuk menyatakan nasi,
beras, gabah, dan padi. Jadi, kata rice dalam
Bahasa Inggris mengacu kepada nasi, beras, gabah, dan padi dalam Bahasa
Indonesia. Variasi dalam Bahasa Indonesia itu disebabkan karena kedekatan
masyarakat Indonesia dengan nasi sebagai makanan pokoknya yang merupakan bentuk
budaya masyarakat Indonesia.
Contoh lain misalnya, dalam budaya
Inggris pembedaan kata saudara (orang yang lahir dari rahim yang sama)
berdasarkan jenis kelamin yaitu brother
dan sister. Padahal budaya Indonesia
membedakan berdasarkan usia yaitu yang lebih tua disebut kakak dan yang lebih
muda disebut adik. Kebudayaan Inggris tidak memandang saudara berdasarkan usia
namun berdasarkan jenis kelamin berlawanan dengan kebudayaan Indonesia yang
lebih mementingkan segi usia. Ini dikarenakan kebudayaan santun masyarakat
Indonesia lebih kental dibanding masyarakat Inggris pada umumnya.
Pendapat senada dikatakan oleh
Levi-Strauss (dalam Sibarani 1992:104). Menurutnya, bahasa adalah hasil
kebudayaan. Dalam hal ini berarti kebudayaan mempengaruhi bahasa seperti halnya
pada contoh-contoh di atas. Bahasa merupakan refleksi seluruh kebudayaan dari
sebuah masyarakat. Contohnya dapat kita lihat jika kita membandingkan bahasa
Sunda dengan bahasa Jawa, yaitu sebagai berikut:
Bahasa Sunda
Bahasa Jawa
Amis:
manis Amis:
amis
Gedang:
papaya Gedhang:
pisang
Raos:
enak Raos:
rasa
Atos:
sudah Atos:
keras
Cokot:
ambil Cokot:
gigit
Kata
dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa meskipun bentuk dan ejaannya sama namun
berbeda artinya. Hal ini disebabkan adanya perbedaan latar budaya yang
mempengaruhi arti tersebut. Tata cara berbahasa seseorang sangat dipengaruhi
norma-norma budaya suku bangsa atau kelompok masyarakat tertentu. Kebudayaan
yang sudah mendarah daging sangat berpengaruh pada bahasa seseorang. Itulah
sebabnya kita perlu memahami norma-norma kebudayaan sebelum atau selain
mempelajari bahasa (Hodidjah, artikel hlm. 6).
Pandangan
berbeda terungkap dari teori Sapir-Whorf. Teori ini mengungkapkan bahwa bahasa
mempengaruhi budaya. Mereka mengatakan demikian karena apa yang diungkapkan
pengguna bahasa mencerminkan kebiasaan si penutur. Dalam teori Sapir-Whorf,
kebiasaan tersebut timbul dari bahasa sehingga ia menegaskan bahwa bahasa
mempengaruhi budaya (kebiasaan). Sayangnya teori ini dianggap lemah untuk saat
ini, karena fakta-fakta yang ada menunjukkan bahwa kebudayaanlah yang
mempengaruhi bahasa.
Penutup
Seperti yang telah
dikemukakan sebelumnya bahwa penulisan ini bertujuan untuk memberikan deskripsi
mengenai kebenaran teori bahwa bahasa mempengaruhi pandangan masyarakat
penuturnya dan mendeskripsikan pengaruh bahasa terhadap budaya ataukah
sebaliknya. Dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa tidak membentuk atau
mempengaruhi pandangan masyarakat penuturnya. Kesimpulan ini dibuktikan dengan
lima hal yaitu (1) bahasa yang sama namun ideologi berbeda, (2) bahasa yang
berbeda namun ideologi sama, (3) bahasa yang sama namun terjadi perubahan
pandangan dari waktu ke waktu, (4) suatu bahasa dapat menggambarkan banyak
pandangan dunia yang berbeda, dan (5) pandangan seorang multibahasawan. Bahasa
dan budaya memiliki kedudukan yang sama tinggi, meskipun begitu banyak fakta
dalam kehidupan yang menunjukkan bahwa pengaruh budaya terhadap bahasa lebih
dominan ketimbang sebaliknya.
Daftar
Acuan
Brown, Gillian & George Yule
(dindonesiakan oleh Soetikno).1996. Analisis Wacana. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Chaer, Abdul. 1995. Sosiolinguistik Sebuah Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
David D. Steinberg, Hiroshi Nagata,
& David P. Aline. 2001. Psycholinguistics
Language, Mind, and World. London: Longman.
E. Soekamto, Katharina (peny.). 2003. Rampai Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
(Kumpulan Esai Soenjono Dardjowidjojo). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Hodidjah.
Bahasa Mempengaruhi Budaya atau
Sebaliknya?. Artikel (diunduh dari http://google.com,
pada 27 Juni 2012).
Mahsun.
2005. Metode Penelitian Bahasa.
Jakarta: Grafindo.
Nababan,
PWJ. 1993. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Sibarani,
Robert. 1992. Hakikat Bahasa Bandung:Citra Adtya Bakti.
Tim Pusat Bahasa. 2005. Kamus Besar
Bahasa Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Pusat
Bahasa RI.